Pengamat ekonomi memperkirakan harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) dan turunannya akan melambung seiring dengan rencana Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat transisi biodiesel dari B35 menjadi B50.
Eliza Mardian dari Center of Reform on Economic (Core) Indonesia menjelaskan bahwa implementasi kebijakan B50 akan menyebabkan lonjakan permintaan terhadap CPO. “Dengan adanya kebijakan B50, penggunaan CPO untuk biodiesel akan meningkat dan pasokan CPO yang tersedia di pasar akan berkurang, sehingga harganya akan merangkak,” ungkap Eliza dikutip dari cnbcindonesia, Selasa (22/10).
Baca juga: Gapki: Program B50 Berpotensi Ancam Ekspor CPO Indonesia
Eliza juga menekankan bahwa karena Malaysia dan Indonesia adalah eksportir utama CPO, penerapan B50 akan mengurangi supply CPO di pasar global, yang pada gilirannya akan mengerek harga. “Berhubung Malaysia dan Indonesia eksportir utama CPO, ketika ada B50 ini bisa mengurangi supply CPO yang diperdagangkan sehingga mengerek harga,” tambahnya.
Meskipun ekspor CPO dan turunannya diperkirakan masih akan berjalan, Eliza mengingatkan bahwa tanpa langkah untuk meningkatkan produksi, akan ada risiko perluasan lahan sawit yang dapat mengorbankan hutan, berpotensi menyebabkan deforestasi dan kerusakan lingkungan. “Ekstensifikasi areal pertanaman sawit bertolak belakang dengan semangat Indonesia untuk menurunkan emisi,” katanya.
Indonesia sendiri menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% pada 2030, tetapi per 2022, penurunan emisi baru mencapai 10%. “Win-win solution-nya adalah melakukan peremajaan pohon kelapa sawit alias intensifikasi, jangan membuka lahan hutan,” tegas Eliza.
Menurutnya, rendahnya produktivitas sawit Indonesia dibandingkan dengan Malaysia disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk penggunaan bibit unggul dan pemupukan yang memadai. Dia menyarankan pemerintah untuk lebih fokus pada peremajaan sawit yang sudah tua atau tidak produktif. “Rendahnya realisasi peremajaan kelapa sawit tersebut disebabkan karena keterbatasan anggaran peremajaan sawit,” jelasnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa ekspor CPO dan turunannya mengalami penurunan baik secara bulanan maupun tahunan. Total volume ekspor pada September 2024 tercatat hanya 1,49 juta ton, menurun dari 1,97 juta ton di bulan sebelumnya. Meskipun harga CPO global meningkat menjadi US$932,05 per ton, nilai ekspor tetap menunjukkan tren penurunan yang signifikan.
Dengan semua tantangan yang ada, masa depan industri kelapa sawit Indonesia di tengah kebijakan B50 menjadi semakin kompleks dan memerlukan perhatian serius dari pemerintah dan pelaku industri.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

































