Harga Telur Anjlok, Program MBG Siap Serap Produksi Peternak Blitar Rp24.000 per Kilogram

Aspirasi para peternak telur Kabupaten Blitar Jawa Timur terhadap kondisi kurang idealnya harga telur telah dijawab pemerintah. Penyerapan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mengandalkan operasional harian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di Kabupaten Blitar telah dipastikan.

“Ini jujur, kami diberitahu langsung oleh Bapak Kepala Badan Pangan Nasional yang juga Menteri Pertanian, untuk hadir di Blitar, mendengar sekaligus bersama-sama pemerintah daerah tentunya, untuk mengambil langkah-langkah solusi,” kata Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Maino Dwi Hartono di Kantor Bupati Kanigoro, Kabupaten Blitar, Jawa Timur pada Kamis (4/6/2026).

“Ibu Kepala Badan Gizi Nasional juga sudah menyampaikan agar SPPG-SPPG langsung menyerap peternak, langsung melalui koperasi atau asosiasi. Kenapa melalui koperasi asosiasi? Tentunya itu sebuah kelembagaan yang mempermudah administrasi teman-teman SPPG,” tambah Direktur Maino.

Adapun dalam dialog yang dipimpin Wakil Bupati Blitar Beky Herdihansah ini telah diputuskan solusi sebagai penyangga peternak telur Kabupaten Blitar. Pertama, mitra SPPG di Kabupaten Blitar bersedia menggunakan menu telur dalam program MBG minimal 2 kali dalam seminggu. Kedua, asosiasi/koperasi peternak telur rakyat di Kabupaten Blitar bersedia menyediakan supply telur dan mengantar ke lokasi dapur mitra SPPG di Kabupaten Blitar sesuai dengan standar kualitas yang telah disepakati.

Ketiga, mitra SPPG di Kabupaten Blitar dan asosiasi/koperasi peternak telur rakyat di Kabupaten Blitar sepakat bahwa transaksi jual beli telur dengan harga Rp 24.000 per kilogram dan akan dinaikkan secara bertahap sesuai dengan Harga Acuan Pemerintah. Terakhir, kesepakatan bersama ini dapat diperbaiki sewaktu-waktu.

Sebagai tindak lanjutnya, Dinas Peternakan Kabupaten Blitar akan melakukan pemetaan terhadap 117 SPPG aktif terhadap jumlah asosiasi/koperasi peternak telur yang ada sebanyak 17 unit. Pertimbangan lokasi dan jarak menjadi pertimbangan utama dalam pemetaan.

Untuk diketahui, sebelumnya peternak telur di Kabupaten Blitar sudah menyuarakan keluhan mengenai depresiasi harga telur ayam ras yang dialami dalam beberapa waktu terakhir. Mereka membutuhkan intervensi pemerintah supaya surplus panennya dapat bernilai ekonomis yang wajar.

“Harga telur hari ini di peternak Blitar Rp 21.000. Tadi kita sepakat untuk sementara dibeli Rp 24.000. Jadi peternak mengantar ke SPPG. Harapannya ini akan menaikkan harga di pasar. Paling tidak, ini secara psikologis nanti akan menular ke pasar. Mudah-mudahan harga telur di Blitar khususnya dan secara Jawa Timur umumnya ini bisa mulai membaik,” ujar Maino.

Sebagaimana laporan Badan Pusat Statistik (BPS), komoditas telur ayam ras di Mei kembali mengalami deflasi yang semakin dalam. Deflasi telur di April berada di 4,29 persen dan di Mei semakin terdepresiasi ke 5,14 persen. Tren deflasi telur ayam ras menandakan kondisi produsen telur dalam negeri yang sedang mengalami gejolak harga.

Kabupaten Blitar sendiri merupakan daerah sentra produsen telur ayam ras dan berkontribusi besar terhadap produksi telur nasional. Dengan itu, stabilitas telur ayam ras pada tingkat peternak di Kabupaten Blitar menjadi penting untuk dipastikan.

“Kita tahu Blitar itu salah satu produksi terbesar telur ayam ras menguasai 30 persen nasional. Artinya bayangkan 1 kabupaten menguasai 30 persen. Ada 500 lebih kabupaten lainnya yang mungkin tergantung juga dari Blitar,” sebut Direktur Bapanas Maino.

“Apa yang terjadi di Blitar hari ini, misalnya kalau Blitar aman, bagus, (maka) insya Allah secara nasional juga bagus. Begitu di Blitar bermasalah, kondisinya jatuh, saya yakin secara nasional juga berpengaruh, sehingga ini sama-sama harus kita jaga,” pungkas Maino.

Di forum yang sama, Wakil Bupati Blitar Beky Herdihansa mengharapkan komoditas telur ayam ras yang telah menjadi unggulan daerahnya, harus dapat menjadi penggerak ekonomi. Pemerintah ingin memperkuat rantai pasok pangan yang kuat dan efisien.

“Setiap butir yang terserap oleh SPPG tidak hanya menjadi sumber gizi bagi anak-anak kita, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi bagi peternak dan masyarakat Kabupaten Blitar. Telur itu kan salah satu protein yang paling murah dan menyehatkan, juga menjadi (asupan) anak cerdas,” kata Wabup Beky.

“Kita ingin membangun rantai pasok yang kuat, efisien, dan saling menguntungkan. Peternak membutuhkan akses pasar yang berkelanjutan serta SPPG membutuhkan pasokan telur yang berkualitas, aman, dan tersedia secara kontinu,” tambah Beky.

Sementara, Direktur Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat Badan Gizi Nasional (BGN) Tengku Syahdana yang hadir secara daring menuturkan sesuai arahan Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang, program MBG hadir untuk menjadi penghubung dalam rantai pasok pangan nasional.

“Ibu Nanik sebagai Kepala Badan menyampaikan (agar) kita langsung beli saja ke peternak dulu, biar harganya stabil dulu, biar nanti supply chain, rantai pasoknya itu, biar stabil lagi,” ungkap Direktur BGN Tengku.

“Jadi memang ini PR kita bersama. Ini momentum yang baik. Dengan adanya program MBG, bisa meng-link-kan semua rantai produksi, sehingga nanti terjadi kemandirian pangan di masing-masing lokasi dan semuanya itu bisa mengurangi atau menjaga stabilitas, mengendalikan inflasi di daerah,” kata dia lagi.

Pada intinya, BGN telah menginstruksikan Kepala Regional dan Koordinator Wilayah untuk dapat melakukan simulasi menu dengan menggunakan bahan baku telur ayam ras. Pembelian pun diminta untuk dapat langsung dari peternak di wilayah terdekat.

Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img