Jumlah calon orang miskin di Indonesia saat ini meningkat drastis menjadi 137,5 juta jiwa yang disebabkan kelompok calon kelas menengah atas yang rentan terhadap kemiskinan membengkak jumlahnya, sementara jumlah penduduk Indonesia yang tergolong dalam kelas menengah mengalami penurunan signifikan dari 57,33 juta pada tahun 2019 menjadi hanya 47,85 juta pada tahun 2024.
Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS), menyoroti tantangan berat yang dihadapi kelas menengah, yang kini terhimpit oleh kenaikan tarif PPN, harga BBM, dan inflasi. “Daya beli mereka melemah,” ungkap Huda dalam keterangan tertulis, Rabu (16/10).
Dia menekankan bahwa kelas menengah tidak jatuh ke dalam kemiskinan, tetapi bergeser ke kelompok rentan miskin, menuntut pemerintah untuk memberikan dukungan yang lebih besar dengan mempertahankan subsidi dan menunda kenaikan pajak.
Huda juga menjelaskan bahwa selama pandemi COVID-19, kelas menengah justru berjuang untuk bertahan sementara bantuan sosial lebih banyak diterima oleh kelas miskin. Pertumbuhan pendapatan masyarakat kelas menengah hanya mencapai 1,5%, jauh di bawah laju inflasi, memaksa banyak orang untuk menggunakan tabungan demi menjaga pola konsumsi.
Di tengah tekanan ekonomi, Huda mendorong pemerintah untuk menunda kenaikan tarif PPN dan mempertahankan subsidi, sebagai langkah strategis untuk memberikan ruang bagi kelas menengah bernafas dan memulihkan kondisi keuangan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya literasi keuangan dan investasi. Meskipun minat investasi meningkat, banyak yang masih terjebak dalam keputusan finansial yang kurang bijak karena kurangnya pemahaman tentang risiko.
Sebuah perkembangan positif muncul dari peningkatan literasi keuangan di Indonesia. Menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) terbaru, tingkat literasi keuangan melonjak dari 38,03% pada 2019 menjadi 65,43% pada 2024, memberikan harapan bagi kelas menengah di tengah tantangan ekonomi.
Benny Sufami, Co-Founder Tumbuh Makna, menyambut baik peningkatan literasi ini, menyatakan bahwa masyarakat kini lebih siap membuat keputusan keuangan yang bijak dan menghindari jebakan finansial. “Dengan edukasi keuangan yang tepat, mereka bisa memahami cara mengelola pendapatan dan memilih instrumen investasi yang sesuai,” jelasnya.
Dengan adanya peningkatan literasi keuangan, diharapkan masyarakat kelas menengah dapat lebih cerdas dalam mengelola keuangan mereka, meskipun tantangan ekonomi masih menghimpit.
































