InfoEkonomi.ID – Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), Sunarso, mengungkapkan bahwa laba bank di kuartal ketiga 2024 diprediksi masih akan tumbuh, meskipun tidak mencapai angka dua digit. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Katadata: Indonesia Future Policy Dialogue pada Rabu (9/10).
Sunarso menekankan bahwa kondisi makroekonomi saat ini belum menunjukkan perbaikan signifikan, dan ketidakpastian geopolitik global semakin memperburuk situasi bagi sektor perbankan. Dalam menghadapi tantangan ini, BRI memilih untuk menerapkan langkah-langkah lebih hati-hati dalam penyaluran kredit, terutama kepada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Kami sekarang fokus pada perbaikan kualitas aset dan mereset prosedur manajemen risiko kami,” ungkapnya dikutip liputan6.com. Langkah ini diambil untuk memastikan penyaluran kredit tetap terkendali dan sesuai dengan kemampuan debitur, guna meminimalisir risiko kredit bermasalah.
BRI mencatatkan laba bersih sebesar Rp 29,7 triliun pada semester pertama 2024, mengalami peningkatan tipis sebesar 0,95% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, pertumbuhan ini tidak signifikan akibat tingginya biaya pencadangan yang mencapai Rp 21,4 triliun, melonjak 50% dibandingkan tahun sebelumnya.
Dalam penyaluran kredit, BRI berhasil mencatat pertumbuhan 11,2% secara tahunan, mencapai Rp 1.336,78 triliun. Kredit yang paling banyak disalurkan adalah untuk sektor UMKM, dengan total mencapai Rp 1.095,64 triliun, atau 81,96% dari total penyaluran.
Dalam perbandingan kinerja, BRI menjadi bank dengan laba tertinggi di antara emiten besar lainnya, termasuk Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Mandiri (BMRI), meskipun pertumbuhannya hanya 0,95%. BBCA mencatatkan laba Rp 26,87 triliun, meningkat 11%, sedangkan BMRI mencatatkan laba Rp 26,55 triliun, naik 5,22%. Sementara itu, Bank Negara Indonesia (BBNI) memperoleh laba Rp 10,69 triliun, meningkat 3,78%.
































