SALAH satu masalah besar yang dihadapi oleh Generasi Z (Gen Z) di Indonesia adalah kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 9,9 juta penduduk muda di Indonesia mengalami pengangguran. Lantas, apa penyebab utama dari fenomena ini?
Psikolog dan dosen Universitas Paramadina, Tia Rahmania, mengungkapkan beberapa faktor yang menyebabkan hampir 10 juta Gen Z menganggur. Salah satu penyebab utamanya adalah ketidakcocokan antara keahlian (skill) yang dimiliki dan kebutuhan pasar kerja. “Itu menurut survei yang dilakukan oleh Kementerian Ketenagakerjaan,” jelas Tia dalam seminar daring bertajuk “Gen Z & Work Ethics Problem”, Jumat (25/10).
Selain masalah kecocokan keahlian, Tia juga menyebutkan bahwa Gen Z sering kurang disiplin dalam bekerja dan memiliki tuntutan gaji yang tinggi. “Gen Z itu seringkali kurang disiplin. Lalu katanya [Gen Z] terlalu banyak menuntut. Mereka sering dikritisi sebagai generasi yang enggan kerja keras, tetapi mereka menuntut gaji tinggi,” ungkapnya.
Karakteristik unik Gen Z juga menjadi faktor lain yang mempengaruhi kondisi ini. Tia menjelaskan bahwa generasi ini mengutamakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance), sementara tidak semua perusahaan mendukung hal tersebut. “Memang burnout ini merupakan faktor signifikan yang membuat Gen Z meninggalkan pekerjaannya,” ujar Tia.
Kesejahteraan dan keseimbangan kehidupan kerja sangat penting bagi Gen Z. “Tempat kerja yang mendorong kesejahteraan holistik melalui program kesehatan dan dukungan kesehatan mendalam menjadi pertimbangan Gen Z,” tambah Tia. Hal ini sejalan dengan laporan BPS yang mencatat 9,9 juta penduduk muda tanpa kegiatan pada tahun 2023, menunjukkan adanya tenaga kerja potensial yang belum terberdayakan.
Laporan terbaru dari platform konsultasi pendidikan dan karier, Intelligent, menunjukkan bahwa sekitar enam dari 10 perusahaan telah memecat fresh graduate yang baru direkrut tahun ini. Alasan di balik keputusan tersebut mencakup kurangnya motivasi, profesionalisme yang rendah, dan keterampilan komunikasi yang buruk. “Beberapa pekerja Gen Z kesulitan mengelola beban kerja, sering terlambat, dan tidak berpakaian atau berbicara dengan pantas,” kata manajer perekrutan yang disurvei.
Dengan berbagai tantangan yang dihadapi oleh Gen Z dalam dunia kerja, penting bagi mereka untuk meningkatkan keterampilan dan disiplin. Di sisi lain, perusahaan juga perlu memahami karakteristik generasi ini dan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan dan pengembangan keterampilan. Jika tidak, masalah pengangguran ini bisa terus berlanjut.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

































