InfoEkonomi.ID – Bank Indonesia (BI) terus memantau gejolak global, terutama kondisi politik yang memanas di Timur Tengah dan inflasi pangan domestik, untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester II/2024. Farisan Aufar, Manajer Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dipengaruhi oleh faktor domestik dan global.
Melansir dari bisnis.com, faktor global, menurut Farisan, lebih sulit untuk dikendalikan karena Indonesia tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Meski demikian, BI memiliki langkah antisipasi untuk meminimalisir dampak risiko global terhadap perekonomian domestik, meski ia tidak merinci langkah-langkah tersebut selain pengendalian nilai tukar rupiah.
Farisan menyebutkan bahwa meskipun ada ketegangan geopolitik, seperti perang Rusia-Ukraina dan situasi di Timur Tengah, kondisi tersebut tidak serta merta membuat perekonomian Indonesia memburuk. Di samping itu, BI juga fokus menjaga inflasi domestik agar tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi.
Inflasi dibagi menjadi tiga komponen: inflasi inti, inflasi pangan, dan inflasi yang diatur pemerintah. Farisan menekankan bahwa inflasi pangan sering menjadi kendala karena dipengaruhi oleh cuaca dan faktor lain yang dapat menyebabkan gagal panen. Untuk mengatasi hal ini, BI berkolaborasi dengan pemerintah melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan Indonesia (GNPIP) untuk menjaga stabilitas harga komoditas pangan.
Farisan optimis pertumbuhan ekonomi tetap akan berada di atas 5%, didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat. Pada semester I/2024, pertumbuhan ekonomi tercatat 5,08% meskipun ada gejolak global. Untuk mencapai target pertumbuhan di atas 5% hingga akhir tahun, BI akan terus melakukan operasi moneter dan mendorong masyarakat untuk meningkatkan belanja.
“Konsumsi rumah tangga menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Kami harap masyarakat lebih banyak berbelanja, karena belanja membantu perekonomian,” ujar Farisan.
































