InfoEkonomi.ID – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengajukan penggunaan saldo anggaran lebih (SAL) tahun anggaran 2023 sebesar Rp100 triliun untuk menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) di tahun mendatang.
“Jadi, meski defisit naik, dengan penggunaan SAL Rp100 triliun, kita tidak menerbitkan SBN lebih banyak atau justru mengalami penurunan sebesar Rp214 triliun,” kata Sri Mulyani saat Rapat Kerja Badan Anggaran (Banggar) DPR, di Jakarta, Senin.
Defisit anggaran hingga akhir 2024 diperkirakan akan berada pada level 2,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau sekitar Rp609,7 triliun, yang lebih tinggi dari target APBN 2024 sebesar 2,29 persen PDB.
Pendapatan negara diproyeksikan mencapai Rp2.802,5 triliun, tumbuh 0,7 persen (yoy), didorong oleh aktivitas ekonomi yang tetap positif, implementasi reformasi perpajakan, peningkatan dividen BUMN, serta peningkatan layanan dari kementerian/lembaga (K/L).
Sementara itu, belanja negara diperkirakan mencapai Rp3.412,2 triliun atau 102,6 persen dari pagu APBN 2024. Peningkatan ini disebabkan oleh peran APBN sebagai penahan guncangan (shock absorber) untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, melindungi daya beli masyarakat, dan mendukung pencapaian target-target prioritas pembangunan nasional.
Adapun realisasi penerbitan SBN neto hingga semester I-2024 tercatat sebesar Rp206,2 triliun atau 30,9 persen terhadap APBN.
Di tengah dinamika pasar keuangan, stabilitas pasar SBN tetap terjaga dengan kenaikan imbal hasil (yield) yang tetap terkendali.
Kemenkeu memastikan pembiayaan defisit melalui utang dilakukan secara terukur untuk mendapatkan biaya yang paling efisien dan risiko yang terkendali. Penerbitan SBN dilakukan secara fleksibel dan oportunistik, baik terkait diversifikasi instrumen, currency mix, timing penerbitan, maupun komposisi tenor.
“Kehati-hatian inilah yang diharapkan mampu menjaga kredibilitas dari APBN, stabilitas kebijakan fiskal, dan stabilitas seluruh makroekonomi,” kata Menkeu pula.
Artikel ini telah tayang di Antara dengan judul “Menkeu Ajukan Penggunaan SAL Rp100 Triliun Guna Jaga Defisit APBN 2024“
































