InfoEkonomi.ID – PT Phapros Tbk sebagai perusahaan farmasi terkemuka di Indonesia meluncurkan berbagai inisiatif strategis guna mendorong pertumbuhan bisnisnya. Perusahaan ini berkomitmen untuk mengembangkan sejumlah produk baru yang akan menjadi motor penggerak utama bagi pertumbuhan perusahaan.
Plt Direktur Utama PT Phapros Tbk, Ida Rahmi Kurniasih, menyampaikan bahwa tahun ini Phapros akan mendapatkan enam nomor izin edar untuk produk baru. Seluruh produk tersebut merupakan hasil pengembangan internal dari tim R&D Phapros. Empat dari enam produk baru ini akan difokuskan pada upaya preventif dan promotif terapi untuk anak-anak.
“Kami mengembangkan produk anak saat ini dengan teknologi formulasi sediaan obat yang lebih canggih, dimana bentuk sediaan yang nantinya akan kami luncurkan adalah bentuk sediaan seperti permen gummy dan juga tablet hisap sehingga akan lebih disukai oleh anak,” tuturnya saat ditemui di acara temu media secara daring, Jakarta, Kamis (13/6) bersama Direktur Pemasaran Maraja Jeson Siregar serta Direktur Keuangan, Manajemen Risiko & SDM Yudhi Rangkuti.
Ida menambahkan, Phapros mulai menaruh perhatian khusus pada kesehatan anak, mengingat Indonesia sedang menikmati bonus demografi. Sebagian besar penduduk Indonesia pada tahun 2045 nanti akan berada pada usia produktif, yaitu antara 15 hingga 64 tahun. Oleh karena itu, penting untuk mendukung pertumbuhan dan kesehatan anak-anak saat ini agar mereka dapat menjadi generasi penerus bangsa yang unggul di masa depan.
Sejalan dengan program dari Phapros, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga memprioritaskan pelayanan kesehatan dasar (primer) dengan mendorong upaya promotif, preventif, dan pemanfaatan teknologi pada lima prioritas yaitu, peningkatan kesehatan ibu dan anak, percepat perbaikan gizi masyarakat, pengendalian penyakit seperti HIV, malaria, dan tuberculosis, pembudayaan gerakan masyarakat sehat, serta penguatan fasilitas kesehatan.
“Selain empat produk baru terkait segmen anak, dua produk lainnya adalah agen terapi untuk tuberculosis dan Antibiotik Injeksi. Kami optimis keenam produk ini akan menjadi katalisator pertumbuhan bisnis Phapros ke depan bersama dengan produk-produk yang sudah ada saat ini,” tambah Ida.
Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) mengestimasikan, anak usia dini 0-6 tahun di Indonesia mencapai 30,2 juta jiwa pada Maret 2023 yang lalu. Angka itu setara 10,91% dari total penduduk Indonesia.
Sementara kasus tuberculosis di Indonesia berdasarkan data Kementerian Kesehatan menunjukkan terjadi peningkatan pada 2023 dan penderita TB sebanyak 820.789 kasus yang ditemukan dari estimasi 1.060.000 kasus.
“Artinya, pasar obat untuk anak itu cukup besar di Indonesia. Termasuk juga untuk penderita penyakit TB. Di sinilah Phapros mengambil peran,” tutupnya. Artikel ini dilasnir dari Neraca.co.id
































