InfoEkonomi.ID – Praktisi PR harus berani memasukkan anak-anak muda Gen-Z dalam manajemen PR menjadi bagian strategis dari implementasi PR itu sendiri. Demikian salah satu saran yang diungkapkan Silih Agung Wasesa, dalam paparan materi webinarnya bertema “Public Relations Strategies for a Dynamic Gen-Z” dalam acara Info Ekonomi Forum 2024 For Public Relations & Awarding Ceremony 4th Indonesia Top Digital PR Award 2024 yang digelar InfoEkonomi.ID, Rabu (07/2).
Menurut Founder dan Direktur Konner Advisory ini, sekarang perubahan dari generasi satu ke generasi lain berlangsung dengan cepat, di mana generasi sekarang yang biasa disebut Gen-Z berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya dalam hal karakteristiknya. “Sehingga perusahaan yang ingin lebih memajukan digital PR-nya mau tak mau harus potong generasi dengan menghadirkan Gen-Z di posisi manajemen PR yang dimilikinya,” ungkap Siih.
Gen-Z memiliki pengalaman, wawasan, dan pengetahuan yang lebih dibandingkan para seniornya dalam hal platform media sosial dan kreativitas kontennya. “Berbeda dengan generasi saya yang menghormati senior dan banyak menimba ilmu serta pengalaman dari para senior kita. Tinggal sekarang, berani atau tidak perusahaan ke arah kolaborasi itu,” ujar Silih.
Lebih lanjut, Silih menyarankan kepada praktisi PR untuk meninggalkan Mega Influencer karena menurutnya semakin besar status Influencer tidak dibarengi dengan semakin meningkatnya engagement rate yang dimiliki. “Silakan dicek secara survei engagementnya. Sangat kecil dan hanya fokus meningkatkan views saja,” terang Silih.
“Sekarang yang efektif dan banyak laku itu dari Mikro dan Nano Influencer. Walau skup mereka kecil, followernya juga tidak banyak, tetapi begitu mereka bicara jauh lebih dipercaya sehingga engagement rate-nya lebih tinggi,” jelasnya menguatkan.
Silih menerangkan, agar setiap perusahaan melihat dulu engagement rate dari para influencer serta kekurangan dan kelebihan masing-masing sebelum memilih untuk memanfaatkan jasa mereka. “Jasa Mega Influencer itu harganya fantastis. Sayang kalau perusahaan sudah keluar banyak tetapi tidak membawa hasil yang optimal,” tandasnya.






























