InfoEkonomi.ID – PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia (Akseleran) mencatat total penyaluran pinjaman mencapai Rp2,85 triliun selama tahun 2023. Angka ini menunjukkan penurunan kecil dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni Rp 2,95 triliun pada tahun 2022.
Ivan Nikolas Tambunan, pendiri dan CEO Grup Akseleran, mengungkapkan meski ada penurunan dalam penyaluran pinjaman sepanjang tahun 2023. Perseroan tetap optimistis dapat meningkatkan penyaluran tersebut hingga 30% di tahun berikutnya.
“Tahun 2023 target kami sebenarnya lebih tinggi, namun dikarenakan beberapa hal maka target tersebut belum tercapai,” ujarnya kepada Kontan.co.id, pekan lalu.
Ivan menjelaskan, alasan target pinjaman di tahun 2023 tak tercapai di antaranya dari sisi makro ekonomi sebab suku bunga bank sentral terus meningkat. Menurutnya, ini normal bila terjadi kontraksi dalam kebutuhan pendanaan.
Pada tahun 2024 Akseleran menargetkan kenaikan penyaluran pinjaman sekitar 30% menjadi sekitar Rp 3,8 triliun sampai Rp 3,9 triliun. “Kalau kita lihat belakangan ini BI sudah menahan kenaikan bunga, sehingga kami consider tahun 2024 permintaan pendanaan akan lebih besar,” jelasnya.
Ivan menuturkan, di tahun ini pihaknya memprediksi pinjaman paling besar bakal berada di sektor komoditi seperti pertambangan, oil dan gas, energi serta infrastruktur.
Lebih lanjut, dia menambahkan, pihaknya fokus untuk menyediakan arus kas seperti invoice atau pre order maupun inventory financing tanpa agunan fixed asset yang masih banyak dibutuhkan pelaku usaha.
“Juga melakukan assesmen pinjaman dengan prudent agar tingkat kredit macet (NPL) terus rendah, dan cost of fund kami juga jadinya rendah. Ini penting agar bunga yang kami tawarkan ke borrower tetap kompetitif,” tandasnya.
Untuk diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding pembiayaan Fintech P2P lending tumbuh 18,06% year on year (yoy) menjadi Rp59,38 triliun di November 2023, dibandingkan tahun 2022 yang sebesar Rp50,30 triliun.

































