InfoEkonomi.ID – Perayaan Natal identik dengan tradisi pohon Natal, berbagi kado, dan sosok Santa Claus. Tidak bisa dipungkiri tradisi ini sangat kebaratan karena dipengaruhi budaya yang dibawa misionaris Eropa dulu.
Tetapi di sejumlah daerah di Indonesia, sebetulnya ada tradisi lain khas daerah tersebut dalam merayakan Natal. Berikut kami lansir informasi dari KabarBUMN.com beberapa tradisi tradisi unik di Indonesia
Kunci Taon di Manado
Bagi masyarakat Manado perayaan Natal sudah dimulai sejak tanggal 1 Desember. Tradisi unik di Manado, yang mayoritas penduduknya beragama Kristen, adalah Kunci Taon.
Tradisi Kunci Taon menutup semua perayaan Natal yang selesai di minggu pertama bulan Januari. Pada hari tersebut semua orang mengunjungi makam keluarga untuk dibersihkan.
Sering pula dihias dengan lampu-lampu khas Natal. Dilanjutkan dengan makan bersama. Setelah itu, semua orang turun ke jalan untuk keliling dengan mengenakan kostum-kostum lucu.
Penjor dan Kebaya Bali di Gereja Pneil, Bali
Gereja Penjor yang berlokasi di Buleleng, Bali memiliki tradisi unik pada pada ibadah di hari Natal. Bila umumnya gereja dengan ornamen Natal maka gereja ini dihiasi dengan ornamen khas Bali.
Yakni, batang bambu yang berhiaskan janur, yang dinamakan dengan penjor.
Selain itu jemaat di gereja ini pun hadir menggunakan kebaya khas bali lengkap dengan selendang dan kain kamen.
Tradisi Rabo-Rabo Kampung Tugu
Setiap Natal warga di Kampung Tugu, Jakarta memiliki tradisi rabo-rabo. Kampung Tugu yang warganya keturunan Portugis ini melaksanakan tradisi rabo-rabo setelah misa.
Rabo-rabo terdiri atas tradisi berkeliling kampung sambil memainkan musik keroncong dan menari bersama. Rabo sendiri artinya ekor dalam bahasa Portugis.
Rombongan ini berjalan dari satu rumah ke rumah yang lain. Di rumah tersebut rombongan akan bernyanyi, minum, dan makan camilan. Setelah selesai mereka berpindah ke rumah yang lain.
Namun tuan rumah yang sudah dikunjungi harus ikut mendatangi rumah berikutnya, paling tidak diwakilkan satu orang. Sehingga setelah selesai berkeliling kampung, akan terbentuk rombongan orang yang begitu banyak.
Meriam Bambu di Flores
Setiap Natal masyarakat Flores melaksanakan tradisi Meriam Bambu. Dulunya meriam bambu digunakan untuk memberi pengumuman bila ada seseorang yang meninggal.
Kala itu jarak antar kampung begitu jauh sehingga perlu menggunakan meriam untuk menginformasikan berita penting. Setelah itu, fungsinya pun bergeser.
Di malam Natal masyarakat memasang meriam bambu di seluruh penjuru kota. Meriam ini diledakan di perayaan Natal, bersamaan dengan pesta kembang api.
Barapen di Papua
Tradisi Barapen dilaksanakan masyarakat Papua. Pada perayaan Natal masyarakat Papua memanggang babi dengan pembakaran batu yang dinamakan barapen.
Prosesnya membutuhkan waktu cukup lama, sekitar setengah hari dan dilakukan secara beramai-ramai.
Pertama, batu besar ditata sedemikian rupa kemudian ditumpuk secara bergantian antara kayu dan batu. Tumpukan ini kemudian dibakar sekitar 2-4 jam sampai menjadi batu yang panas.
Batu ini kemudian dipindahkan ke lubang tempat semua masakan yang akan dimasak. Selain menu babi, menu lain yang juga dimasak adalah ubi, kangkung, dan pepaya.

































