InfoEkonomi.ID – PT Kalbe Farma Tbk melalui anak usahanya PT Forsta Kalmedic Global mengembangkan inovasi terkait produk benang bedah. Pengembangan produk benang bedah lokal ini diharapkan akan mendorong kemandirian industri kesehatan yang selama ini masih didominasi oleh produk impor.
Presiden Komisaris PT Kalbe Farma Tbk, Irawati Setiady mengatakan bahwa, ketergantungan kita terhadap impor bahan baku ataupun alat kesehatan perlahan-lahan harus bisa kita kurangi. Hal tersebut disampaikannya dalam agenda Seminar Nasional Dukung Ketahanan Industri Kesehatan Nasional, Kalbe Kembangkan Produk Benang Bedah, baru-baru ini.
“Ketergantungan kita pada impor, baik bahan baku obat atau alat kesehatan perlahan-lahan harus kita kurangi. Sebagai bagian dari dukungan kepada pemerintah, Kalbe terus berinovasi untuk dapat memproduksi obat dan alat kesehatan dengan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) yang tinggi sesuai standar yang ditetapkan pemerintah,” ujarnya.
Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Vidjongtius menambahkan, seiring dengan arahan Presiden Joko Widodo, PT Kalbe Farma Tbk turut berkontribusi dalam komitmen menyehatkan bangsa dengan terus berinovasi. Inovasi R&D dan alih teknologi Kalbe dengan kolaborasi multi-parties, serta meningkatkan kompetensi SDM dan produksi melalui alih teknologi dan investasi di Indonesia. Kalbe pun mendukung produksi alkes dalam negeri dengan local content melalui produk benang bedah.
“Kalbe melalui anak usaha PT Kalbio Global Medika sudah produksi bahan baku obat biologi untuk pengobatan anemia, kanker, diabetes, dan lainnya; PT Global Oncolab Farma sudah produksi obat kanker; PT Finusol Prima sudah produksi obat cairan infus; PT Forsta Kalmedic Global sudah produksi benang bedah (surgical suture) dan sedang mempersiapkan produksi bahan habis pakai (consumable) lainnya,” jelas Vidjongtius.
“Sebagai bagian dari dukungan untuk kemandirian kesehatan khususnya alat kesehatan di Indonesia, Kalbe melalui anak usaha PT Forsta Kalmedic Global telah mengembangkan teknologi surgical suture atau benang bedah dan memproduksinya di dalam negeri dengan TKDN lebih dari 40%, akan ditingkatkan di atas 60%. Saat ini, Forsta telah mendapatkan sertifikat produksi, sertifikat CPAKB (Cara Pembuatan Alat Kesehatan yang Baik), sertifikat ISO 13485, dan sertifikat halal,” tutup Vidjongtius.
Produksi komersial benang bedah Elva telah tersedia sejak Desember 2021 dengan produk pertama Elvalene, benang bedah sintetis polypropylene yang tidak dapat diserap. Pada tahun 2022, Elvalene telah terdaftar di e-catalogue dan telah diujicobakan di beberapa rumah sakit pendidikan di Pulau Jawa. Saat ini, portofolio benang yang lebih lengkap sudah tersedia oleh Forsta, baik itu sintetik maupun natural, meliputi Elvadio, Elvacryl, Elvamono, Elvarapid, Elvachromic, dan Elvaplain, dikutip dari Investorid.
































