Pengembangan ayam petelur tidak berhenti pada penambahan populasi ternak. Di tingkat kandang, keberlanjutan usaha ditentukan oleh kesiapan sarana pemeliharaan, ketersediaan pakan, kesehatan ternak, serta kemampuan kelompok dalam mengelola usaha.
Karena itu, Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat pengawalan pengembangan ayam petelur di daerah agar kegiatan berjalan sesuai sasaran dan dapat mendukung usaha peternak secara berkelanjutan.
Di Jawa Barat, pengawalan dilakukan oleh Balai Veteriner Subang (BV Subang), Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan. Pengawalan mencakup kesiapan kelompok dan kondisi kandang, ketersediaan pakan, serta sarana pendukung sebelum ternak dikembangkan oleh kelompok.
Hingga akhir Agustus 2026, sebanyak 24 kelompok di tujuh kabupaten/kota di Jawa Barat telah masuk dalam pelaksanaan pengembangan ayam petelur. Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Ciamis, Cirebon, Indramayu, Kuningan, Tasikmalaya, Subang, dan Kota Cirebon.
Kepala BV Subang, Putut Eko Wibowo, mengatakan kesiapan kelompok menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha ayam petelur. Menurutnya, pengawalan dilakukan agar ternak yang dikembangkan dapat dipelihara dengan baik dan usaha kelompok memiliki fondasi yang kuat.
“Pengembangan ayam petelur ini diarahkan untuk memperkuat usaha kelompok dan meningkatkan produktivitas peternak. Karena itu, kami terus mengawal kesiapan kandang, pemeliharaan, pakan, dan kesehatan ternak agar pengembangannya dapat berjalan secara berkelanjutan,” ujar Putut, Senin (31/8/2026).
Dalam pelaksanaannya, tim BV Subang melakukan pengecekan terhadap kondisi kandang, ketersediaan pakan, dan sarana pendukung. Pengawalan tersebut dilakukan untuk memastikan kelompok memiliki kesiapan dalam memelihara ternak dan melanjutkan kegiatan usaha.
Selain ternak ayam petelur, dukungan kegiatan juga mencakup pakan serta obat dan vitamin untuk menunjang pemeliharaan.
Salah satu kelompok yang mengikuti pengembangan tersebut, KT Berkah Farm Kota Cirebon, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diterima. Menurut kelompok, dukungan tersebut dapat membantu memperkuat kegiatan usaha peternakan yang mereka jalankan.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan atas bantuan ayam petelur dan pakan yang telah diberikan. Dukungan ini sangat berarti dalam membantu peningkatan produktivitas dan kesejahteraan perekonomian peternak di daerah kami,” ujar Kusdiantoro yang mewakili KT Berkah Farm.
Bagi Kementan, pengembangan ayam petelur merupakan bagian dari upaya memperkuat kapasitas produksi pangan asal ternak di daerah. Ketika usaha kelompok berkembang, produksi telur juga diharapkan semakin mampu mendukung ketersediaan protein hewani bagi masyarakat.
Karena itu, pengawalan tidak berhenti pada penyerahan ternak. Kesiapan kandang, pemeliharaan, pakan, kesehatan ternak, dan kemampuan kelompok dalam mengelola usaha menjadi bagian yang perlu diperhatikan secara berkelanjutan.
Melalui UPT di daerah, Kementan terus mendorong agar pengembangan peternakan memiliki manfaat yang lebih luas: ternak terpelihara dengan baik, usaha peternak semakin produktif, ekonomi masyarakat bergerak, dan ketersediaan pangan asal ternak semakin kuat.
Langkah tersebut sejalan dengan arah pembangunan peternakan nasional yang menempatkan peternak rakyat sebagai bagian penting dalam memperkuat produksi protein hewani Indonesia.
Bagi Kementan, yang terpenting bukan sekadar berapa banyak ternak yang dikembangkan, tetapi bagaimana ternak tersebut tumbuh sehat, dikelola dengan baik, dan menjadi usaha yang terus berkembang di tangan peternak. Dengan demikian, pengembangan ayam petelur dari kandang masyarakat dapat ikut memperkuat ketersediaan telur sekaligus mendukung agenda besar swasembada protein hewani Indonesia.
Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News
































