Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat sistem deteksi dini penyakit zoonosis dan penyakit infeksi baru yang berpotensi menimbulkan pandemi. Upaya ini diarahkan untuk memastikan ancaman penyakit dapat diketahui lebih cepat dan ditangani sebelum berkembang serta berdampak lebih luas.
Penguatan tersebut dilakukan melalui Sosialisasi Pelaksanaan Program Strengthening Infectious Disease Detection Systems–Global Health Security (STRIDES-GHS) yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan di Jakarta pada 26–27 Agustus 2026.
Kegiatan yang diikuti lebih dari 100 peserta dari kementerian/lembaga, pemerintah daerah, laboratorium, mitra teknis, dan pemangku kepentingan terkait ini merupakan bagian dari kerja sama Indonesia dengan U.S. Department of State. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat surveilans, kapasitas laboratorium, pertukaran data, serta respons terhadap penyakit melalui pendekatan One Health.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengatakan pengendalian zoonosis membutuhkan kerja bersama karena ancaman penyakit tidak mengenal batas sektor maupun wilayah.
“Melindungi Indonesia dari penyakit zoonosis membutuhkan kolaborasi yang kuat lintas sektor dan lintas tingkat pemerintahan. Melalui kemitraan dengan berbagai pihak, kita terus memperkuat surveilans, sistem laboratorium, dan koordinasi sehingga pemerintah di tingkat provinsi dan kabupaten semakin siap mendeteksi dan merespons ancaman penyakit sebelum berkembang menjadi kedaruratan kesehatan masyarakat yang lebih besar,” kata Agung dalam Pembukaan Sosialisasi Program STRIDES-GHS di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Menurut Agung, Indonesia menghadapi risiko penyakit infeksi emerging, zoonosis, dan penyakit infeksi baru yang berpotensi menimbulkan pandemi. Hasil evaluasi International Health Regulation–Joint External Evaluation (IHR-JEE) dan Performance Veterinary Services (PVS) 2023 juga menunjukkan perlunya penguatan dalam penilaian risiko, surveilans, deteksi dini, dan respons terpadu.
Sosialisasi STRIDES-GHS sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190 Tahun 2026. Rangkaian kegiatan tersebut dimulai pada 26 Agustus dan berlangsung hingga 26 September 2026.
Tahun ini, Bulan Bakti mengusung tema “Swasembada Protein Hewani untuk Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Agung mengatakan tema tersebut menjadi arah kerja pembangunan peternakan dan kesehatan hewan.
“Swasembada protein hewani bukan hanya soal menghasilkan lebih banyak daging, telur, dan susu. Berdaulat berarti kita mampu memenuhi kebutuhan protein dari kekuatan produksi sendiri. Adil berarti ketika produksi tumbuh, peternak rakyat mendapat bagian yang layak. Dan makmur berarti kemajuan itu bermuara pada pendapatan, lapangan kerja, dan ekonomi desa yang bergerak,” ujar Agung.
Dalam kerangka tersebut, kesehatan hewan menjadi salah satu fondasi penting untuk menjaga produktivitas ternak sekaligus memastikan keberlanjutan usaha peternak.
Melalui STRIDES-GHS, kapasitas laboratorium diperkuat melalui pelatihan biosafety dan biosecurity, diagnostik molekuler, sekuensing genomik, penguatan jejaring laboratorium, dukungan peralatan dan bahan pengujian, serta sistem rujukan spesimen.
Selain itu, sistem pelaporan kejadian zoonosis melalui iSIKHNAS juga diperkuat dan diarahkan untuk terhubung dengan SIZE (Sistem Informasi Zoonosis dan EID). Keterhubungan kedua sistem tersebut ditujukan untuk mendukung pengambilan keputusan lintas sektor secara lebih cepat dan terintegrasi.
Program ini akan diterapkan di enam kabupaten prioritas, yakni Subang dan Bogor di Jawa Barat, Tangerang dan Lebak di Banten, serta Boyolali dan Sukoharjo di Jawa Tengah.
Kementan memastikan pelaksanaan program tersebut terintegrasi dengan sistem dan program yang telah berjalan. Langkah ini dilakukan agar tidak terjadi tumpang tindih sekaligus memastikan hasil kerja sama dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi penguatan sistem kesehatan hewan di Indonesia.
Enilda Martin, Unit Chief Kesehatan, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, mengatakan “Pemerintah Amerika Serikat berkomitmen untuk terus mendukung dan memperkuat kapasitas Indonesia dalam mencegah, mendeteksi, dan mengendalikan penyakit zoonotik, mengurangi risiko kejadian, serta melindungi masyarakat dari ancaman penyakit menular melalui pendekatan multisektoral. Dengan memperkuat surveilans pada hewan, meningkatkan kapasitas laboratorium dan diagnostik, serta memperkuat sistem respons cepat, bersama-sama kita membangun kapasitas yang berkelanjutan bagi ketahanan kesehatan Indonesia dan mendorong stabilitas regional,” kata Enilda.
Agung menegaskan, kerja sama tersebut harus meninggalkan kemampuan dan sistem yang dapat terus dimanfaatkan Indonesia setelah program berakhir.
“Kita tentu berharap hasil program ini tidak berhenti pada berakhirnya periode kerja sama, tetapi dapat menjadi bagian dari penguatan sistem nasional dan memberikan manfaat jangka panjang bagi pembangunan peternakan dan kesehatan hewan Indonesia,” ujar Agung.
Melalui STRIDES-GHS, Kementan memperkuat penerapan pendekatan One Health dengan menghubungkan aspek kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan. Penguatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan ternak, memastikan produksi protein hewani tetap berjalan, sekaligus melindungi peternak dari ancaman penyakit.
Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News































