Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mendorong percepatan konsolidasi industri maritim nasional dengan memperkuat peran PT PAL Indonesia sebagai National Consolidator dan Lead Integrator.
Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, mengatakan pemerintah bersama PT PAL akan segera menyusun peta jalan (road map) industri maritim nasional. Peta jalan tersebut akan mengatur pembagian fokus antar-galangan, termasuk penguatan PT PAL pada sektor militer dan pertahanan, serta penguatan keterlibatan galangan lain pada sektor sipil.
“Segera kita bentuk tim bersama untuk penyusunan roadmap industri maritim.” kata Menteri Rachmat Pambudy saat bertemu Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, di kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Kamis (20/08).
Menurut Menteri Rachmat Pambudi, pengembangan industri maritim perlu dilakukan secara terintegrasi karena berperan sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi sekaligus mendorong penguasaan teknologi tinggi. Bappenas juga akan berkoordinasi dengan lintas Kementerian terkait rencana penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) sebagai landasan penguatan industri maritim nasional.
Sementara itu, Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, mengatakan percepatan konsolidasi industri maritim perlu dilakukan secara menyeluruh karena pembangunan kapal memiliki efek berganda terhadap berbagai sektor pendukung, mulai dari dermaga, infrastruktur maritim, logistik, hingga industri komponen.
“Industri maritim merupakan salah satu industri induk yang mendorong berbagai sektor industri lainnya.” ujar Kaharuddin.
Salah satu skenario yang didorong adalah pemesanan kapal melalui PT PAL yang selanjutnya pengerjaannya dapat didistribusikan kepada galangan-galangan lain di dalam negeri. Skema tersebut dapat dilakukan melalui bundling dengan memanfaatkan produk, desain, dan teknologi PT PAL.
Kaharuddin mengatakan skema tersebut sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto untuk mempercepat konsolidasi industri maritim nasional sekaligus pengembangan pasar. Dalam skema ini, PT PAL berperan sebagai pengintegrasi kebutuhan, desain, teknologi, dan kapasitas produksi, sementara pengerjaan dapat melibatkan galangan nasional lainnya.
Untuk mendukung peran tersebut, PT PAL dalam lima tahun terakhir melakukan transformasi dimana salah satunya adalah keberhasilan dalam peningkatan kapasitas produksi. Contoh docktime Frigate Merah Putih sukses dipangkas dari 22 bulan menjadi 8 bulan. Sementara itu, Landing Dock Filipina dapat mencapai tahap peluncuran dalam waktu 6 bulan.
Selain meningkatkan kapasitas produksi, PT PAL juga mengembangkan teknologi pertahanan, termasuk unmanned submarine berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dikenal dengan Kapal Selam Otonom (KSOT).
“Pengembangan industri maritim tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi kapal, tetapi juga penguatan ekosistem dan penguasaan teknologi tinggi.” kata Kaharuddin.
Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News































