Hubungan Indonesia dan Australia di sektor pertanian terus diarahkan tidak hanya pada penguatan perdagangan, tetapi juga pada pembangunan kemitraan jangka panjang yang memberikan manfaat bagi petani, peternak, pelaku usaha, serta konsumen di kedua negara.
Semangat tersebut mengemuka dalam pertemuan Kementerian Pertanian (Kementan) dengan delegasi National Farmers’ Federation (NFF) Australia di Jakarta, Rabu (26/8/2026). Pertemuan yang berlangsung di kantor Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) tersebut menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi dan membuka peluang kerja sama baru antara pemerintah dan pelaku industri pertanian kedua negara.
Mewakili Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Direktur Kesehatan Hewan Hendra Wibawa menyambut positif kunjungan delegasi NFF. Ia menilai Australia selama ini merupakan salah satu mitra penting Indonesia dalam pengembangan subsektor peternakan, kesehatan hewan, dan perdagangan pertanian.
“Australia selalu menjadi salah satu mitra terdekat dan terpenting Indonesia di bidang peternakan, kesehatan hewan, dan perdagangan pertanian. Hubungan dagang bilateral kita telah berkembang selama bertahun-tahun dan telah menciptakan keterkaitan yang kuat antara petani, produsen, eksportir, importir, dan pelaku bisnis di kedua negara,” ujar Hendra.
Menurut Hendra, hubungan yang telah terbangun tersebut menjadi modal penting untuk memperluas kemitraan pada masa mendatang. Kerja sama tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan perdagangan, tetapi juga untuk memperkuat kapasitas sektor peternakan, meningkatkan produktivitas, dan menjaga keberlanjutan rantai pasok pangan.
Dalam pertemuan tersebut, Indonesia juga mengangkat pentingnya peningkatan akses terhadap sapi bakalan dengan harga yang bersaing, guna mendukung pengembangan usaha peternakan dan pemenuhan kebutuhan daging nasional. Selain itu, Indonesia menyampaikan pentingnya peningkatan ketersediaan sapi perah dalam jumlah yang lebih besar untuk mendukung pengembangan populasi sapi perah dan penguatan produksi susu dalam negeri.
Delegasi NFF yang dipimpin Su McCluskey, Australia’s Agriculture Trade Diversification Representative of the National Farmers’ Federation, melibatkan perwakilan dari berbagai bidang pertanian Australia, termasuk produsen biji-bijian, dewan eksportir ternak, dan ahli nutrisi hewan. Selama lima hari di Indonesia, delegasi tersebut menjajaki peluang diversifikasi perdagangan sekaligus mengidentifikasi ruang kerja sama baru di sektor pertanian dan peternakan.
Dari sisi Australia, kunjungan tersebut dipandang sebagai kesempatan untuk mempererat hubungan yang telah terjalin. Andrew O’Sullivan, Minister Counsellor Agriculture, Department of Agriculture, Fisheries and Forestry, Australian Embassy, mengatakan Indonesia memiliki posisi strategis bagi Australia.
“Indonesia adalah salah satu mitra terpenting Australia, dan kunjungan ini memberikan kesempatan untuk memperdalam kolaborasi antara pemangku kepentingan pemerintah dan industri di kedua negara untuk menumbuhkan perdagangan dan investasi di sektor ini,” kata Andrew.
Indonesia juga menyambut baik rencana untuk membahas lebih rinci berbagai isu dan peluang kerja sama melalui pertemuan tahunan Working Group on Agriculture Cooperation (WGAC) antara Indonesia dan Australia. Forum tersebut dinilai penting sebagai ruang untuk membahas isu-isu teknis dan strategis secara lebih terstruktur, termasuk perdagangan, pengembangan peternakan, inovasi, teknologi, serta penguatan kerja sama ilmu pengetahuan.
Selain aspek perdagangan, Indonesia menyambut dukungan Australia untuk memperkuat knowledge sharing, partnership dalam inovasi dan teknologi, serta kerja sama science di bidang peternakan. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendukung berbagai program strategis Indonesia, khususnya dalam peningkatan produktivitas, efisiensi produksi, kesehatan hewan, pengembangan sumber daya manusia, dan pembangunan peternakan yang berkelanjutan.
Kerja sama kedua negara selama ini juga telah berkembang pada bidang kesehatan hewan dan biosekuriti. Australia secara berkelanjutan mendukung penguatan kapasitas Indonesia dalam pencegahan dan pengendalian penyakit hewan menular, antara lain melalui program surveilans, penguatan laboratorium, serta peningkatan kompetensi tenaga veteriner.
Aspek tersebut dinilai semakin penting karena kelancaran perdagangan produk peternakan harus berjalan beriringan dengan jaminan kesehatan hewan, biosekuriti, dan keamanan pangan. Karena itu, pertukaran pengetahuan dan keahlian terus didorong, termasuk dalam bidang genetika, pembiakan, manajemen pakan, kesehatan hewan, serta penerapan teknologi peternakan modern.
Dari sisi industri, NFF melihat peluang kerja sama yang lebih luas seiring meningkatnya kebutuhan Indonesia terhadap sistem pangan yang tangguh. Su McCluskey mengatakan kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat posisi Australia sebagai mitra pertanian yang dapat diandalkan.
“Kunjungan ini bertujuan untuk menunjukkan komitmen Australia sebagai mitra pertanian yang terpercaya dan dapat diandalkan, serta berkontribusi pada prioritas bersama dalam ketahanan pangan, pengembangan pertanian berkelanjutan, dan ketangguhan rantai pasok,” ujar Su.
Pembahasan juga mengarah pada pentingnya kepastian perdagangan dalam jangka menengah dan panjang. Perencanaan yang lebih terukur untuk dua hingga empat tahun ke depan dinilai dapat membantu petani, pelaku usaha, dan investor mengambil keputusan dengan lebih percaya diri. Kepastian tersebut mencakup ketersediaan pasokan, pengaturan logistik, hingga mekanisme perdagangan yang memungkinkan produsen di kedua negara menyusun rencana usaha secara lebih baik.
Di tingkat peternak, peningkatan produktivitas menjadi agenda penting dalam penguatan kemitraan kedua negara. Kerja sama diharapkan dapat mendorong peternak rakyat, termasuk yang tergabung dalam koperasi, untuk meningkatkan efisiensi melalui perbaikan manajemen pakan, kesehatan hewan, genetika, serta tata kelola usaha.
Selain kerja sama teknis, Kementan juga terus mendorong penyederhanaan proses administrasi perdagangan tanpa mengurangi standar kesehatan hewan dan biosekuriti. Salah satu langkah yang telah diterapkan adalah proses persetujuan komoditas produk susu bagi negara dengan status kesehatan hewan *dan sistem penjaminan keamanan produk hewan yang baik*, melalui mekanisme persetujuan tingkat negara . Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi arus perdagangan sekaligus memberikan kepastian bagi pelaku usaha, dengan tetap mempertahankan penerapan standar kesehatan hewan dan biosekuriti.
Pertemuan Kementan dan delegasi NFF memperlihatkan bahwa hubungan pertanian dan peternakan Indonesia–Australia memiliki ruang yang jauh lebih luas daripada sekadar perdagangan komoditas. Akses terhadap sapi bakalan dan sapi perah, diversifikasi perdagangan, inovasi dan teknologi, ilmu pengetahuan, kesehatan hewan, peningkatan kapasitas peternak, serta ketangguhan rantai pasok menjadi bagian dari agenda bersama yang terus dibangun.
Dengan semakin eratnya kemitraan antara pemerintah, petani, peternak, peneliti, dan sektor swasta, Indonesia dan Australia diharapkan dapat memperluas manfaat kerja sama pertanian sekaligus berkontribusi pada penguatan ketahanan pangan kedua negara di tengah dinamika dan tantangan pangan global.
Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News































