Kementan Dorong Hilirisasi Ayam Terintegrasi, Peternak Rakyat Siap Dukung Program MBG

Program Prioritas Makan Bergizi Gratis yang digagas Presiden Prabowo Subianto membuka peluang besar bagi peternak rakyat. Memanfaatkan momentum tersebut, Kementerian Pertanian mengadakan Sosialisasi Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) dalam sesi Temu Teknologi Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII 2026 di Kabupaten Gorontalo, Senin (22/6/2026), yang menghadirkan peternak, penyuluh dan perwakilan KTNA dari seluruh Indonesia untuk memahami ekosistem perunggasan nasional yang sedang dibangun pemerintah.

Perwakilan Kementerian Pertanian Raden Jatu, menyampaikan bahwa hilirisasi merupakan salah satu program prioritas pemerintah periode 2024–2029 yang bertujuan meningkatkan nilai tambah komoditas peternakan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Subsektor peternakan memiliki peran strategis dalam penyediaan protein hewani, peningkatan kesejahteraan peternak, penciptaan lapangan kerja, serta penggerak ekonomi di wilayah perdesaan.

“Kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia akan terus meningkat seiring pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Kondisi ini menjadi peluang besar bagi subsektor perunggasan, khususnya ayam pedaging dan ayam petelur, mengingat produksi nasional saat ini sudah mampu memenuhi kebutuhan domestik bahkan menghasilkan surplus di beberapa wilayah,” ujarnya.

Jatu menjelaskan bahwa Program HAT menghubungkan seluruh rantai usaha perunggasan mulai dari penyediaan bibit, produksi pakan, budidaya, rumah potong unggas, pengolahan hasil, hingga pemasaran. Melalui pendekatan terintegrasi ini diharapkan tercipta efisiensi usaha, peningkatan produktivitas, stabilitas pasokan dan harga, serta pemerataan sentra produksi unggas di berbagai daerah — tidak hanya terpusat di Pulau Jawa.

Ia menyampaikan bahwa Gorontalo juga menjadi salah satu daerah prioritas dalam pengembangan tahap awal program, melalui pembangunan fasilitas pabrik pakan dan farm parent stock broiler. Pemilihan Gorontalo didasarkan pada potensi produksi jagung yang melimpah sebagai bahan baku utama pakan ternak, serta posisi geografisnya yang dekat dengan pelabuhan sehingga memberikan keuntungan logistik dan distribusi, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor.

Program ini juga membuka peluang keterlibatan yang luas bagi seluruh lapisan masyarakat. “Peluang sebagai mitra sangat terbuka untuk kelompok, pelaku usaha, dan seluruh masyarakat yang ingin bermitra dan masuk ke dalam ekosistem Hilirisasi Ayam Terintegrasi,” tegas Jatu.

Dukungan terhadap program HAT juga datang langsung dari para peserta. Peserta dari Aceh, Ainal Mardia, yang hadir menyampaikan pandangannya atas inisiatif pemerintah yang dinilai menjawab kebutuhan peternak rakyat di lapangan, sekaligus memberikan harapan baru bagi pengembangan usaha perunggasan di daerah.

“Kami mendukung program ini. Selama ini peternak rakyat sering kali berdiri sendiri. Dengan adanya sistem yang terintegrasi, kami merasa ada kepastian yang selama ini kami tunggu-tunggu. Saya berharap program terintegrasi ini betul-betul terintegrasi artinya petani, kalau kita punya masalah punya kendala-kendala seperti ini itu kita akan didampingi dan didukung,” ujarnya.

Kementerian Pertanian menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pemerataan pembangunan subsektor peternakan melalui program Hilirisasi Ayam Terintegrasi, yang diharapkan memberikan dampak positif bagi subseKtor peternakan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img