Ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung menuntut dunia usaha untuk semakin adaptif dalam mengelola risiko. Di tengah fluktuasi nilai tukar, perubahan regulasi, perkembangan teknologi, hingga tekanan biaya operasional, penerapan manajemen risiko menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas dan ketahanan bisnis.
Sejumlah lembaga internasional memperkirakan perekonomian global masih menghadapi tantangan berupa perlambatan ekonomi, dinamika geopolitik, hingga volatilitas pasar keuangan. Dalam kondisi tersebut, kemampuan perusahaan mengidentifikasi dan mengelola risiko menjadi semakin penting, sehingga manajemen risiko tidak lagi dipandang sekadar sebagai fungsi pengendalian, melainkan telah menjadi bagian strategis dalam pengambilan keputusan dan penguatan ketahanan bisnis.
Direktur Utama Asuransi Candi Utama sekaligus Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Budi Herawan, mengatakan bahwa manajemen risiko kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai instrumen kepatuhan terhadap regulator. Menurutnya, manajemen risiko telah berkembang menjadi bagian strategis yang berperan penting dalam proses pengambilan keputusan bisnis dan penguatan daya tahan perusahaan.
“Penerapan manajemen risiko hari ini bukan lagi hanya sekadar untuk memenuhi fungsi kepatuhan, melainkan sudah mengarah kepada fungsi strategis untuk ketahanan bisnis,” ungkap Budi dalam keterangan tertulis yang diterima oleh InfoEkonomi.id pada Rabu (24/6).
Ia menjelaskan, kondisi ekonomi yang masih menghadapi berbagai tantangan menuntut perusahaan untuk memiliki kemampuan membaca potensi risiko sejak dini. Dengan pendekatan yang sistematis, perusahaan dapat mengidentifikasi titik-titik rentan yang berpotensi mengganggu kinerja usaha, baik dari sisi keuangan, operasional, maupun strategi bisnis.
Menurut Budi, penerapan manajemen risiko membantu perusahaan memetakan berbagai kerentanan bisnis, mulai dari tekanan arus kas, struktur permodalan, ketergantungan pada sumber pendapatan tertentu, hingga risiko investasi dan faktor eksternal lainnya.
“Dengan mengetahui lebih awal titik-titik rentan tersebut, maka keputusan strategis dapat diambil secara lebih bijak, misalnya bisnis mana yang perlu dihindari, dikurangi porsinya, atau berbagi risiko dengan perusahaan reasuransi atau perusahaan asuransi lain. Hasilnya, perusahaan yang disiplin dalam penerapan manajemen risiko umumnya lebih stabil menghadapi gejolak ekonomi, serta lebih dipercaya oleh perbankan dan investor,” katanya.
Lebih lanjut, Budi menilai perusahaan yang mengintegrasikan manajemen risiko ke dalam budaya organisasi dan perencanaan strategis cenderung lebih siap menghadapi berbagai gejolak ekonomi.
“Perusahaan yang disiplin membangun tata kelola risiko dan mengintegrasikannya ke dalam perencanaan strategis, struktur permodalan, dan kebijakan underwriting maupun investasi, cenderung menunjukkan kinerja yang lebih terkendali dan memiliki akses pendanaan yang lebih baik,” ungkapnya.
Menurutnya, manfaat manajemen risiko tidak hanya terlihat ketika perusahaan menghadapi krisis. Dalam kondisi normal sekalipun, pengelolaan risiko yang baik dapat membantu perusahaan meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, menjaga keberlanjutan usaha, serta menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham.
“Jadi penerapan manajemen risiko jangan hanya dipandang dari sisi pemenuhan ketentuan regulator saja, tetapi penerapannya memang sangat bermanfaat dalam pertimbangan bisnis dan seleksi risiko, yang ujungnya tujuannya adalah untuk meningkatkan shareholders value,” tambahnya.
Budi menegaskan bahwa paradigma mengenai manajemen risiko perlu berubah. Jika selama ini masih dianggap sebagai fungsi administratif atau pelengkap tata kelola perusahaan, maka ke depan manajemen risiko harus ditempatkan sebagai salah satu pilar utama strategi bisnis.
“Esensi ketahanan bisnis di tengah kondisi ekonomi saat ini bukan sekadar bertahan dari guncangan, tetapi mampu keluar dari krisis dengan posisi yang justru lebih kuat,” tegasnya.
Ia menambahkan, perusahaan yang mampu mengintegrasikan manajemen risiko ke dalam budaya kerja dan proses bisnis akan memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan pertumbuhan sekaligus memenangkan persaingan di tengah lingkungan usaha yang semakin kompleks dan dinamis.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, kemampuan perusahaan dalam mengidentifikasi, mengukur, dan mengelola risiko diperkirakan akan menjadi faktor pembeda antara perusahaan yang mampu bertahan dan berkembang dengan yang tertinggal. Karena itu, menurut Budi, manajemen risiko perlu dipandang sebagai investasi strategis jangka panjang yang mendukung ketahanan dan pertumbuhan bisnis, bukan sekadar kewajiban administratif untuk memenuhi regulasi.
Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News































