Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan Selasa setelah mengalami tekanan pada awal pekan. Penguatan ini terjadi seiring membaiknya sentimen global, dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengisyaratkan bahwa konflik militer dengan Iran hampir mencapai akhir.
IHSG dibuka menguat 105,68 poin atau 1,44% ke level 7.443,05, sementara indeks LQ45 juga naik 1,33% ke posisi 760,56. Menurut Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, pernyataan Trump mampu menekan risk premium geopolitik sehingga memicu aksi short covering dan dip-buying di pasar saham.
“Pernyataan itu (Trump) menurunkan risk premium geopolitik dan memicu short covering serta dip-buying di pasar saham,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Selasa (10/3).
Trump menyebut operasi militer terhadap Iran sudah “very complete” dan berlangsung jauh lebih cepat dari perkiraan awal. Sentimen positif semakin kuat setelah harga minyak global berbalik turun tajam, dari mendekati 120 dolar AS per barel menjadi sekitar 90 dolar AS per barel.
Penurunan harga minyak terjadi setelah muncul laporan bahwa negara-negara anggota G7 membahas kemungkinan melepas cadangan minyak strategis untuk menambah suplai global. Pada perdagangan Selasa pagi pukul 09.20 WIB, harga minyak WTI tercatat turun 9,99% ke 85,30 dolar AS, sementara minyak Brent melemah 10,40% ke 88,67 dolar AS per barel.
Amerika Serikat juga memberikan pengecualian sementara selama 30 hari agar minyak Rusia yang tertahan di laut dapat dijual ke India, serta mempertimbangkan pelepasan cadangan dari Strategic Petroleum Reserve.
Meski demikian, Liza menilai volatilitas pasar masih tetap tinggi karena dua risiko utama: potensi terganggunya pasokan energi dari Selat Hormuz yang menyalurkan 20% perdagangan minyak dunia, serta risiko stagflasi setelah data tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan pasar. Pasar kini memperkirakan peluang penurunan suku bunga The Fed pada Juli mencapai 77%, dengan pemangkasan penuh diperkirakan terjadi pada September.
Di sisi lain, sejumlah negara mulai mengambil langkah darurat menghadapi lonjakan harga energi. China membatasi harga bahan bakar domestik, Korea Selatan mempertimbangkan kebijakan serupa untuk pertama kalinya dalam hampir 30 tahun, sementara Jepang menyiapkan opsi pelepasan cadangan minyak dan penggunaan dana darurat.
Langkah pengetatan konsumsi energi juga dilakukan oleh Pakistan, yang menutup sekolah selama dua minggu dan mendorong work from home. Sementara itu, Hungaria menetapkan batas harga bahan bakar dan mendesak Uni Eropa untuk menangguhkan sanksi energi terhadap Rusia.
Sementara itu, bursa Eropa pada perdagangan Senin (9/3) kompak melemah, termasuk Euro Stoxx 50, FTSE 100 Inggris, DAX Jerman, dan CAC Prancis.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News
































