Sambut Puncak Musim Hujan 2026/2027, Bapanas Pastikan Stok Pangan Nasional Aman

Indonesia dinyatakan siap terkait ketersediaan pangan untuk mengantisipasi efek dari fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) di samudra sekitar Indonesia yang berdampak pada berkurangnya curah hujan. Pemerintah telah mempersiapkan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) sejak 2 tahun lalu.

“Insya Allah, kami sudah persiapkan 2 tahun sebelumnya mengantisipasi El Nino Godzilla. Stok kita banyak, masih melimpah. Stok (Cadangan Beras Pemerintah) kita 4,5 juta ton. Jadi aman,” sebut Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dikutip di Jakarta pada Jumat (16/10/2026).

Dalam catatan Bapanas, stok CBP saat ini sudah tembus 4,55 juta ton dan mengalami peningkatan yang eksponensial hingga 200 persen dibandingkan Oktober pada 2 tahun sebelumnya. Kala itu, stok CBP Indonesia berada di angka 1,51 juta ton pada Oktober 2023.

Adapun peningkatan stok CBP hingga 200 persen dalam rentang 2 tahun tersebut sepenuhnya dihasilkan dari produksi beras dalam negeri. Namun pemerintah turut memastikan daya serap gabah atau setara beras tidak menjadikan kalangan produsen dan penggilingan beras swasta tersisihkan.

Dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa total proyeksi produksi beras nasional Januari-September 2026 dapat mencapai 28,39 juta ton. Sementara total serap pemerintah setara beras berkisar di 4,1 juta ton atau 14,4 persen saja terhadap produksi beras nasional. Selebihnya kalangan swasta masih dapat menyerap panenan gabah petani.

Kepala Bapanas Amran pun mengaku optimistis Indonesia dapat kembali mencapai swasembada pangan yang berkelanjutan di tahun 2026 ini. Terlebih musim penghujan diharapkan akan kembali merambah di Indonesia dalam waktu yang tidak terlalu lama.

“Sekarang sudah mulai hujan. Jakarta sudah mulai hujan. Sulawesi, Maluku juga. Tinggal 2 bulan, insya Allah di bawah kepemimpinan Bapak Prabowo, Presiden kita yang kita cintai, (akan mencapai) swasembada berkelanjutan,” kata Amran.

Adapun menurut prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim hujan di November 2026 dapat terjadi pada 185 Zona Musim (ZOM) atau 24,66 persen wilayah dan pada Desember dapat meningkat menjadi 266 ZOM atau 17,31 persen wilayah.

Cakupan wilayah yang mengalami musim hujan mulai November di antaranya yaitu sebagian Sumatera, sebagian Jawa, sebagian Kalimantan, sebagian Bali, sebagian NTB, sebagian kecil NTT, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku, Papua Barat bagian utara, dan sebagian Papua Selatan.

Kemudian musim hujan bulan Desember dialami sebagian Lampung, sebagian besar Jawa, sebagian Kalimantan Selatan (Kalsel), sebagian besar Bali, sebagian besar NTB, sebagian besar NTT, sebagian besar Sulawesi, sebagian Malut, sebagian Maluku, dan Papua Selatan bagian selatan.

“Musim hujan 2026/2027 umumnya bersifat normal pada 510 ZOM (69,76 persen luas daratan Indonesia). Perlu menjadi perhatian bagi 147 ZOM (18,55 persen luas daratan Indonesia) karena sifatnya hujannya lebih basah serta hanya 42 ZOM (11,69 persen) diprediksi akan bersifat bawah normal atau lebih kering,” jelas Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan dalam kesempatan terpisah.

Tidak hanya itu, BMKG juga melaporkan sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami puncak musim hujan 2026/2027 pada bulan Desember 2026 yaitu sebanyak 155 ZOM atau 36,94 persen dari luas daratan Indonesia. Kemudian pada Januari 2027 yaitu sebanyak 162 ZOM atau 25,68 persen dari luas daratan Indonesia dan pada Februari 2027 yaitu sebanyak 190 ZOM atau 16,79 persen luas daratan Indonesia.

Lebih lanjut, Bapanas memastikan pula untuk stok CPP yang telah pemerintah perkuat sampai saat ini tidak hanya beras saja. Stok CPP dalam bentuk jagung pakan masih terdapat sebanyak 84 ribu ton. Selanjutnya, stok CPP dalam bentuk minyak goreng 26 ribu kiloliter yang dikelola Perum Bulog dan ID Food. CPP dalam bentuk daging ayam ada 39 ton di ID Food.

Khusus untuk komoditas yang sifatnya perishable atau mudah membusuk atau mudah rusak, seperti cabai, bawang merah, dan telur ayam ras, pemerintah optimis mampu ditopang dari produksi pangan dalam negeri secara reguler. Hal ini karena  terdapat surplus produksi terhadap kebutuhan konsumsi yang cukup tinggi selama setahun ini.

Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img