Capaian Swasembada Pangan Era Presiden Prabowo, Indonesia Setop Impor Beras Umum Sejak 2025

 Kans Indonesia menjadi negara dengan kekuatan ekonomi yang besar cukup tinggi. Penopangnya adalah melimpahnya sumber daya alam, baik untuk pangan dan energi. Pemerintah dalam komando Presiden Prabowo Subianto memastikan keunggulan tersebut diperuntukkan utamanya bagi kebutuhan rakyat

“Indonesia sangat kuat. Indonesia ini bisa super power, karena kita punya keunggulan komparatif. Kita berada di khatulistiwa, yang berada khatulistiwa Brasil dan Indonesia. Itu dikaruniai sumber daya alam melimpah,” papar Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat menerima sejumlah perwira siswa Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Sesko TNI) dikutip di Jakarta pada Sabtu (31/10/2026).

Fokus program unggulan Indonesia sekarang tentunya memastikan swasembada pangan yang berkelanjutan. Impor pangan pokok strategis ditekan seminimal mungkin. Produsen pangan dalam negeri ditunjang kebutuhan untuk peningkatan produktifitasnya.

“Apa program Bapak Presiden? Pertama, pangan. Kita sekarang sudah, alhamdulillah, swasembada. Saya tidak pernah mengatakan saya, tapi berkat kita semua. Ini swasembada dua tahun, swasembada berkelanjutan,” ujar Amran

“Nah itulah Presiden kita. Bukan karena menterinya, tapi karena Presiden kita mengambil kebijakan. Indonesia terhormat di mata dunia. Kami saat dampingi Bapak Presiden, hormat bangsa lain, meminta impor dan ekspor, minta ke negara kita. Itu kehormatan,” ungkap dia.

Swasembada beras yang telah tercapai Indonesia murni tanpa ada impor yang jumlahnya berlebihan. Kepala Bapanas Amran memastikan Indonesia berhenti impor beras untuk stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog sejak tahun 2025. Produksi beras nasional diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi nasional yang sekitar 31,27 juta ton dalam setahun.

Impor beras yang ada hanya pada jenis beras khusus yang masih harus dilakukan karena belum dapat diproduksi oleh Indonesia, antara lain beras Basmati, Hom Mali, dan beras setengah masak/kukus. Alokasinya pun hanya sekitar 0,039 persen terhadap kebutuhan konsumsi beras nasional selama setahun.

Selanjutnya, Amran menuturkan program unggulan Presiden Prabowo yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak bertujuan politis. Itu murni niat Presiden untuk mempersiapkan generasi Indonesia yang unggul di masa depan.

“Kemudian MBG. Itu bukan untuk pemilihan berikutnya. MBG itu untuk anak SD dan SMP, dia tidak memilih untuk 2029 nanti. Artinya dari situ saja, niatnya Presiden kita, long term (jangka panjang). Beliau memikirkan generasi Indonesia untuk 50 sampai 100 tahun ke depan. Kemudian koperasi itu memotong supply chain,” jelas Amran.

Dengan adanya program MBG juga mampu menjadi instrumen penyerapan produk unggas, seperti telur. Harga telur di peternak pun dapat terjaga. Dalam hal ini, Kepala Bapanas yang juga Mentan Amran memastikan penyerapan telur untuk kebutuhan MBG telah ditingkatkan menjadi tiga kali dalam seminggu. Apabila ada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah yang tidak taat, dipastikan akan dijatuhi sanksi berat.

Terakhir, orang nomor satu di Bapanas itu mengungkapkan bahwa Indonesia punya suatu daya tawar yang tinggi di level internasional. Bahkan ia sebut komoditas ini dapat membuat gejolak yang melampaui efek bom atom atau nuklir.

“Contoh bahwa ini bisa mengubah dunia. Ini jauh lebih dahsyat bom atom. Ini jauh lebih dahsyat daripada nuklir. ini bisa mengubah peta dunia. Sawit ini kita produsen terbesar dunia. Ekspor kita ke India, China, Pakistan, Amerika, dan sebagainya,” sebut Amran.

“Pertanyaan saya, kalau ini dihentikan, lalu dijadikan biosolar di dalam negeri, kiamat tidak negara lain? Kiamat ya, kalah gak nuklir, bom atom? Kalah. Indonesia nanti tidak bergantung untuk pangan dan energi,” pungkas Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman.

Adapun swasembada pangan telah direngkuh Indonesia untuk 8 dari 11 pangan pokok strategis, antara lain beras, jagung pakan, bawang merah, cabai besar, cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, dan gula konsumsi. Sementara untuk kedelai, bawang putih, dan daging ruminansia masih membutuhkan pasokan dari luar negeri.

Kendati demikian, porsi total impor dari 3 pangan pokok strategis tersebut tidak lebih dari 5 persen dari total keseluruhan kebutuhan konsumsi nasional. Adapun Proyeksi Neraca Pangan Bapanas memperkirakan total kebutuhan konsumsi 11 pangan pokok strategis berada di angka sekitar 68,8 juta ton.

Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img