Kementan Tingkatkan Kapasitas Laboratorium Veteriner untuk Perkuat Sistem Kesehatan Hewan

Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat kapasitas laboratorium veteriner dengan meningkatkan kompetensi sumber daya manusia yang melakukan pemetaan dan penilaian laboratorium. Langkah ini penting untuk memastikan kemampuan diagnostik, tata kelola, keselamatan, dan mutu layanan laboratorium terus berkembang sesuai kebutuhan kesehatan hewan nasional.

Upaya tersebut dilakukan melalui Pelatihan Asesor Laboratory Mapping Tool (LMT) Nasional Tahun 2026 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan melalui Proyek CARE-I di Bali, 31 Agustus hingga 4 September 2026.

Pelatihan diikuti perwakilan laboratorium veteriner dengan pembekalan dari tenaga ahli yang berpengalaman dalam assessment laboratorium. Peserta tidak hanya mempelajari penggunaan LMT, tetapi juga dilatih membaca kondisi laboratorium, mengenali kesenjangan, serta menyusun langkah perbaikan berdasarkan kebutuhan masing-masing unit.

Direktur Kesehatan Hewan Ditjen PKH Kementan, Hendra Wibawa, mengatakan peningkatan kapasitas asesor nasional menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan evaluasi laboratorium yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Menurut Hendra, LMT tidak semata-mata digunakan untuk menghasilkan nilai, tetapi untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi dan kebutuhan penguatan laboratorium.

“Dengan pendekatan tersebut, assessment tidak berhenti pada pemberian nilai, tetapi menghasilkan gambaran mengenai kebutuhan penguatan laboratorium,” ujar Hendra yang hadir secara daring, Senin (31/8/2026).

Quality Assurance Coordinator, Food and Agriculture Organization (FAO) Regional Office for Asia and the Pacific, Chris Morrissy, menjelaskan LMT memberikan pendekatan yang terstandar untuk melihat kapasitas laboratorium. Dengan pendekatan yang sama, kondisi berbagai laboratorium dapat dibandingkan dan perkembangan dari waktu ke waktu dapat dipantau.

“Dalam penggunaan LMT, yang menjadi perhatian utama adalah memastikan kapasitas diagnostik laboratorium berjalan dengan baik, sekaligus memastikan penerapan penjaminan mutu dan manajemen laboratorium dilakukan dengan baik,” ujar Chris.

Menurut Chris, hasil LMT juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi gaps atau kesenjangan dan kemudian menetapkan sasaran perbaikan. Dengan demikian, hasil assessment dapat menjadi dasar bagi pemerintah dan pengelola laboratorium untuk menentukan dukungan maupun langkah penguatan yang diperlukan.

Pendekatan tersebut membuat assessment tidak diposisikan sebagai upaya mencari kekurangan, melainkan sebagai cara untuk mengetahui bagian yang masih dapat diperbaiki. Chris juga menjelaskan bahwa hasil penilaian dapat digunakan untuk melihat perkembangan kapasitas laboratorium secara lebih terukur.

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah bahwa kualitas laboratorium tidak hanya ditentukan oleh fasilitas dan peralatan. Sumber daya manusia serta prosedur kerja yang baik juga menjadi faktor penting dalam menentukan kemampuan sebuah laboratorium.

Penguatan kapasitas asesor juga diarahkan agar Indonesia memiliki lebih banyak tenaga yang mampu melakukan assessment secara terstandar. Dengan demikian, proses evaluasi dapat dilakukan secara lebih berkelanjutan di dalam negeri.

Selain kapasitas diagnostik, aspek keselamatan dan keamanan laboratorium turut menjadi perhatian. Penggunaan LMT Safety membantu melihat penerapan biosafety, biosecurity, penggunaan alat pelindung diri, kesiapan infrastruktur, serta kepatuhan terhadap prosedur keselamatan.

Country National Veterinary Advisor (CNVA), DFAO Animal Health and Production (AHP) Indonesia, Farida Camalia Zaenal, menekankan pentingnya penerapan pengetahuan yang diperoleh peserta setelah kembali ke unit kerja.

“Setelah ini teman-teman mampu melakukan penilaian menggunakan LMT tools, kemudian teman-teman mampu melakukan penilaian risiko untuk bisa melengkapi dokumen,” ujar Farida.

Dengan kemampuan tersebut, laboratorium dapat melakukan self-assessment secara berkala, sementara external assessment oleh asesor memberikan gambaran yang lebih objektif mengenai perkembangan dan kebutuhan penguatan.

Pada akhirnya, penguatan laboratorium bukan semata-mata tentang gedung atau peralatan. Orang, sistem, prosedur kerja, keselamatan, dan kemampuan diagnostik harus bergerak bersama.

Bagi Kementan, semakin baik kemampuan laboratorium veteriner, semakin kuat pula fondasi sistem kesehatan hewan nasional dalam mendeteksi penyakit secara cepat dan tepat. Karena itu, penguatan kompetensi asesor menjadi bagian dari upaya membangun layanan laboratorium yang berkualitas, mandiri, dan mampu mendukung perlindungan kesehatan hewan serta ketahanan pangan nasional.

Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img