Kementan Dorong Lampung Jadi Sentra Hilirisasi Ayam Terintegrasi dari Hulu hingga Hilir

Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong agar kekuatan perunggasan Lampung berkembang menjadi ekosistem usaha yang utuh, mulai dari penyediaan bibit, pakan dan budidaya hingga pengolahan serta pemasaran. Langkah ini ditempuh melalui program Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) yang ditujukan untuk memperkuat posisi peternak sekaligus menciptakan nilai tambah yang lebih besar.

Penguatan program tersebut dilakukan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Hilirisasi Ayam Terintegrasi di Provinsi Lampung yang digelar di Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Lampung, Rabu (2/9/2026). Kegiatan ini menjadi ruang bagi peternak untuk memahami bagaimana usaha perunggasan dapat dikembangkan secara lebih terintegrasi dan memiliki akses pasar yang lebih kuat.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Balai Veteriner (B-Vet) Lampung, Suryantana, yang mewakili Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak. Sebanyak 20 peternak ayam pedaging dan petelur mengikuti kegiatan tersebut. Hadir pula Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung, Ketua Kelompok Pengelolaan Sumber Daya Genetik Hewan, Kepala BBRMP Lampung, perwakilan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lampung Selatan, serta narasumber dari Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak dan B-Vet Lampung.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Hary Suhada, dalam sambutan tertulisnya menekankan bahwa hilirisasi menjadi bagian penting dalam membangun industri perunggasan yang lebih kuat. Menurut dia, keberhasilan pembangunan sektor tersebut tidak cukup hanya diukur dari kemampuan meningkatkan produksi, tetapi juga dari sejauh mana hasil produksi dapat menghasilkan nilai tambah dan memberikan kepastian pasar bagi peternak.

“Hilirisasi Ayam Terintegrasi kita dorong untuk membangun ekosistem perunggasan yang terhubung dari hulu hingga hilir. Jadi, tidak berhenti pada bagaimana menghasilkan ayam, tetapi bagaimana produksi tersebut memiliki nilai tambah, terserap pasar, dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi peternak,” tegas Hary Suhada.

Gagasan tersebut sekaligus menempatkan peternak sebagai bagian penting dalam rantai industri, bukan sekadar pelaku produksi di tingkat hulu. Karena itu, Hary menilai pembangunan ekosistem HAT membutuhkan kerja bersama dari berbagai pihak, mulai pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, BUMN, koperasi, kelompok peternak hingga peternak itu sendiri.

“Kita tidak bisa membangun hilirisasi ini sendiri. Kolaborasi menjadi kunci, karena ekosistem perunggasan mencakup banyak mata rantai, mulai dari penyediaan bibit, pakan, budidaya, kesehatan hewan, pengolahan, penyimpanan, logistik hingga pemasaran,” ujarnya.

Lampung dipandang memiliki modal kuat untuk menjadi salah satu daerah pengembangan HAT. Selain memiliki basis peternakan ayam ras yang cukup besar, daerah ini juga mencatat produksi ayam pedaging dan telur yang surplus. Kondisi tersebut menjadi peluang untuk memperluas manfaat ekonomi melalui penguatan rantai usaha dari hulu hingga hilir.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung, Lili Marwanti, mengatakan potensi tersebut perlu ditopang dengan sarana dan dukungan yang memadai agar produktivitas peternak dapat berkembang seiring dengan terbentuknya pasar yang lebih pasti.

“Lampung merupakan salah satu sentra produksi ayam ras, baik daging maupun telur, dan produksinya surplus. Dengan adanya Project Hilirisasi Ayam Terintegrasi di Lampung, kami berharap potensi yang ada dapat semakin diperkuat, terutama melalui penyediaan sarana peternakan dari hulu hingga hilir. Kami berharap program ini dapat memberikan dampak nyata bagi peternak, mulai dari peningkatan efisiensi usaha, kepastian pasar, sampai peningkatan kesejahteraan peternak. Pemerintah daerah siap bersinergi dan mendukung pelaksanaannya,” kata Lili.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta diperkenalkan dengan konsep ekosistem HAT yang dirancang menyatukan berbagai mata rantai industri perunggasan. Rantai tersebut mencakup Farm Grand Parent Stock (GPS), Farm Parent Stock, Farm Final Stock, pabrik pakan, obat hewan, Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) dan pengolahan daging, cold storage, logistik hingga pemasaran.

Tak hanya membahas hilirisasi, kegiatan ini juga membekali peternak dengan pengetahuan mengenai penerapan Good Farming Practices (GFP) untuk ayam ras pedaging maupun petelur. Penerapan GFP merupakan amanat Peraturan Menteri Pertanian Nomor 34 Tahun 2025 tentang Standar Berusaha untuk Perizinan Berbasis Risiko.

Aspek teknis peternakan juga menjadi perhatian. Para peserta mendapatkan materi mengenai manajemen kesehatan hewan, biosekuriti, pengenalan penyakit pada ayam hingga manajemen budidaya ayam petelur. Pengetahuan tersebut penting agar produktivitas dapat dijaga sekaligus menekan risiko gangguan kesehatan yang dapat memengaruhi hasil usaha.

Melalui kegiatan ini, Kementerian Pertanian berharap peternak Lampung semakin siap mengambil peran dalam ekosistem Hilirisasi Ayam Terintegrasi. Dengan penguatan dari sisi produksi, manajemen, kesehatan hewan hingga akses pasar, usaha peternakan diharapkan tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga tumbuh lebih efisien, kompetitif dan menghasilkan nilai tambah.

Pada akhirnya, hilirisasi ayam terintegrasi bukan sekadar upaya memperpanjang rantai bisnis. Lebih dari itu, program ini diarahkan untuk membangun ekosistem perunggasan yang saling terhubung, memperkuat daya saing daerah, sekaligus memastikan manfaat pertumbuhan industri dapat dirasakan lebih luas oleh peternak dari hulu hingga hilir.

Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img