Gabah Kolaka Tak Lagi Perlu Keluar Daerah? Bapanas Buka Peluang Bangun RMU

Harga gabah yang terjaga di tingkat petani memberi ruang bagi petani untuk mendapatkan keuntungan sekaligus mendorong peningkatan produksi. Di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, produksi padi meningkat hingga sekitar 73.000 ton pada 2025, sehingga penguatan kapasitas pengolahan gabah di daerah menjadi kebutuhan berikutnya.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman mengatakan harga gabah yang terjaga memberi kepastian bagi petani sekaligus mendorong mereka untuk terus meningkatkan produksi.

“Caranya adalah kebijakan harga pangan di tingkat petani. Harga gabah, kita jaga Rp 6.500. Harga sudah selesai. Harganya sudah dinaikkan. HPP pemerintah yang membuat petani bahagia, itu Rp6.500 per kilo,” ujar Amran yang dikutip di Jakarta, Senin (24/8/2026).

Harga yang memberikan ruang keuntungan bagi petani dapat menjaga minat petani untuk terus berproduksi. Seiring produksi yang meningkat, kapasitas pengolahan juga perlu disiapkan agar gabah dapat diserap dan diproses lebih dekat dengan sentra produksi.

Kepala Bapanas membuka peluang pembangunan Rice Milling Unit (RMU) salah satunya di Kabupaten Kolaka guna menambah kapasitas penggilingan di daerah. RMU ini dapat membuat gabah petani digiling lebih dekat dengan sentra produksi.

“Coba ya RMU Kolaka, yang RMU Kolaka coba nanti siapkan datanya,” ujar Amran.

Dari sisi produksi, Kabupaten Kolaka menunjukkan perkembangan yang signifikan. Bupati Kolaka Amri Jamaluddin menyebut produksi padi di daerahnya meningkat pada 2025.

“Ucapan terima kasih tetap dari para petani di Kabupaten Kolaka. Dengan harga gabah yang hari ini, alhamdulillah,” ujar Amri saat Audiensi dengan Kepala Bapanas Amran.

“Di Kabupaten Kolaka ini produksi selama ini rentang 2020-2024 itu kurang lebih kita berkisar di 47.000 ton. Dan di tahun 2025 ini Pak Menteri, alhamdulillah kenaikannya kurang lebih 26.000 ton. Jadi totalnya untuk 2025 ini kita produksi pertanian kami ini kurang lebih 73.000 ton. Sehingga ketersediaan di Bulog sampai hari ini kurang lebih 20.000 ton,” sambungnya.

Kenaikan produksi didukung oleh lahan persawahan di Kolaka yang dapat ditanami dan dipanen beberapa kali dalam setahun. Di sejumlah wilayah, petani bahkan dapat melakukan panen hingga lima sampai enam kali pada lahan yang sama.

“Dengan luasan pertanian kami khususnya di persawahan bahkan ada yang sampai 2 tahun sampai 5-6 kali panen,” tutur Amri.

Seiring dengan meningkatnya produksi, kebutuhan terhadap fasilitas pengolahan gabah di daerah juga semakin besar. Amri menyebut sejumlah pemilik RMU di Kolaka telah membeli gabah petani, namun kapasitas yang tersedia belum mencukupi sehingga sebagian gabah masih harus dibawa ke luar daerah untuk digiling sebelum kembali ke Kolaka.

“Hampir-hampir sekarang ini pemilik-pemilik unit RMU yang kemudian menjadi pembeli di Kabupaten Kolaka. Dan pada akhirnya, rantai pasokan pertanian khusus gabah ini, ini panjang, Pak Menteri. Karena harus ke, mohon maaf, harus ke selatan dulu, Pak Menteri, ke Sidrap, kemudian kembali ke Kabupaten Kolaka,” jelas Amri.

Pembangunan RMU diusulkan guna memperkuat kapasitas pengolahan gabah di daerah. Sebelumnya usulan tersebut telah dikoordinasikan dengan Perum Bulog.

“Kami sudah bertemu dengan Bulog pusat, kemudian diarahkan untuk membuat surat secara administrasi ke Bapanas, dalam hal ini Bapak Menteri, untuk mengusulkan. Mudah-mudahan bisa diterima, Pak Menteri, yaitu kami mohon dukungan, support terkait dengan permohonan bantuan Rice Milling Unit, RMU ini di Kabupaten Kolaka. RMU ini, Pak Menteri, kami sudah siapkan tanah, sertifikat sudah kami bawa ini, kalau mudah-mudahan, Pak Menteri berkenan,” terang Amri.

Pemerintah Kabupaten Kolaka telah menyiapkan lahan dan dokumen kepemilikan sebagai bagian dari usulan pembangunan RMU yang disampaikan kepada Bapanas. Melalui RMU di Kolaka, gabah petani dapat langsung digiling di daerah sehingga meminimalisir kebutuhan pengiriman gabah ke luar wilayah.

Penguatan fasilitas penggilingan di sentra produksi sejalan dengan langkah pemerintah meningkatkan kapasitas pengolahan beras nasional melalui Perum Bulog, termasuk pengembangan penggilingan modern dan RMU. Adapun hingga 29 Juli 2026, penyerapan gabah petani secara nasional telah mencapai 3,5 juta ton dengan stok beras mencapai 5,4 juta ton.

Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img