Pemerintah Pastikan Stok Pangan Aman Hadapi El Nino 2026, Masyarakat Diminta Tetap Tenang

Kesiapsiagaan pemerintah untuk menghadapi fenomena El Nino dipastikan kuat, terutama dari aspek ketersediaan pangan pokok strategis. Prediksi terjadinya El Nino telah ada sejak beberapa bulan lalu, sehingga mitigasi berupa penguatan stok Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) menjadi instrumen yang wajib disiapkan.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian (Mentan) menegaskan kesiapsiagaan tersebut dan mengimbau masyarakat cukup bersikap tenang. Predikat swasembada pangan yang diraih pada kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto adalah sebuah prestasi bagi kemaslahatan masyarakat.

“Sekarang alhamdulillah, ini atas arahan Bapak Presiden. Kemarin kita kejar-kejaran El Nino. Tidak usah khawatir. El Nino yang dulu lebih dahsyat daripada sekarang. Kemarin katanya bulan empat, tapi banjir. Bulan lima, bulan enam, banjir. Bulan tujuh juga masih ada banjir. Nah, bulan delapan katanya lagi,” ungkap Amran di Brebes, Jawa Tengah dikutip Selasa (21/7/2026).

“Saya sering katakan hati-hati (prediksinya). Kenapa? petani takut tanam. Tolong pikirkan dampaknya. Ini ada El Nino Godzilla, bulan empat, ternyata banjir. Alhamdulillah tidak jadi tetapi bisa membuat petani takut tanam,” kata Amran lagi.

Kendati demikian, stok CPP yang telah pemerintah perkuat sampai hari ini tidak hanya beras saja. Dalam laporan Bapanas, stok CPP dalam bentuk beras yang ada di Perum Bulog berada di angka 5,24 juta ton per 20 Juli. Sementara untuk Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) tingkat provinsi tercatat total 7,35 ribu ton per akhir Juni lalu. Untuk CPPD tingkat kabupaten/kota total ada 13,15 ribu ton yang tersebar di 323 daerah.

Di samping itu, stok CPP dalam bentuk jagung pakan per 20 Juli masih terdapat sebanyak 176 ribu ton. Stok jagung pakan ini terus disalurkan kepada peternak unggas melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan harga yang lebih ekonomis.

Selanjutnya, stok CPP dalam bentuk minyak goreng 1 ribu kiloliter yang dikelola Perum Bulog dan ID Food. CPP gula konsumsi masih ada sekitar 2,79 ribu ton yang juga ada di Bulog dan ID Food. CPP dalam bentuk daging ayam ada 38 ton di ID Food.

Khusus untuk komoditas yang sifatnya perishable atau mudah membusuk atau mudah rusak, seperti cabai, bawang merah, dan telur ayam ras, pemerintah optimis mampu ditopang dari produksi pangan dalam negeri secara reguler. Hal ini karena  adanya surplus produksi terhadap kebutuhan konsumsi yang cukup tinggi selama setahun ini.

Untuk kondisi pangan Indonesia terkini telah dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Indeks Perkembangan Harga (IPH) yang masih cukup baik. Adapun sampai minggu ketiga Juli 2026, hanya 4 provinsi yang mengalami kenaikan IPH dan 34 provinsi mengalami penurunan IPH.

IPH secara kabupaten/kota pun demikian. Sampai minggu ketiga Juli, BPS melaporkan 69 kabupaten/kota dengan kenaikan IPH, sementara sebanyak 283 kabupaten/kota mengalami penurunan IPH.

“Kita sudah swasembada. Bapak Presiden minta kita sudah swasembada, rencana 4 tahun, tapi alhamdulillah kita capai dalam waktu 1 tahun. Kita kan sudah tahu, bagaimana swasembada jagung, bagaimana swasembada beras, ini paling berat adalah beras. Tapi kita bisa wujudkan mimpi kita, gagasan besar Bapak Presiden. Sekarang sudah swasembada beras. Swasembada pangan juga sudah,” beber Amran.

Kokohnya sektor perberasan Indonesia turut diamini oleh dunia internasional. Food and Agriculture Organization (FAO) dalam laporan terbarunya mengangkat proyeksi produksi beras Indonesia yang akan semakin meningkat di tahun 2026 ini.

“Ini adalah prestasi besar yang dicapai atas gagasan besar Bapak Presiden Republik Indonesia. Jadi yang impor tidak senang, negara lain tidak senang. Kenapa? Indonesia adalah importir terbesar di dunia untuk beras, 2 tahun berturut-turut. Tiba-tiba kita hentikan,” urai Amran.

“Ini FAO, dunia mengakui kita. Tadi aku lihat Malaysia itu ribut sekarang, kesulitan beras. Dia impor kalau tidak salah, 40 apa 60 persen. Tapi Indonesia, kita nomor dua tertinggi dunia sekarang. Baru diumumkan, FAO mengumumkan tahun 2026 Indonesia bisa mencapai produksi 38 juta ton,” pungkas Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman.

Menyadur dari dokumen Food Outlook edisi Juni 2026, FAO kembali menempatkan Indonesia sebagai negara produsen beras tertinggi di Asia Tenggara dan juga menjadi tertinggi keempat dunia setelah India, Tiongkok, dan Bangladesh. Akan tetapi dari 4 besar dunia tersebut, hanya Tiongkok dan Indonesia yang diproyeksikan akan mengalami perkembangan produksi beras yang positif.

Di sisi lain, indeks harga beras di pasar global menunjukkan tren kenaikan. Melalui The FAO All Price Rice Index (FARPI), indeks pada Juni 2026 meningkat 3,2 persen dibandingkan bulan sebelumnya. FARPI Juni 2026 tersebut menjadi indeks yang tertinggi sejak Januari 2025 atau dalam 1,5 tahun terakhir.

FAO menyebutkan faktor kenaikan harga beras di pasar internasional dipengaruhi oleh permintaan dari Filipina yang mengalihkan sumber pasokannya selain Vietnam. Namun di Vietnam ada keterbatasan ketersediaan yang menjadi penyebab kenaikan harga. Sementara penjualan ke tujuan Afrika mendorong kenaikan harga di India.

Di Thailand dipengaruhi penjualan yang cukup tinggi ke Malaysia dan kekhawatiran proyeksi produksi beras ke depan. Namun kenaikan harga disebut masih moderat karena dibatasi oleh aktivitas perdagangan yang lambat di Vietnam dan melimpahnya ketersediaan pasokan di India.

Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img