IHSG Menguat ke 8.107, Sinyal Pemangkasan Suku Bunga The Fed Dorong Optimisme Pasar

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat pada perdagangan Rabu pagi, didorong oleh optimisme pelaku pasar terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed).

Pada pembukaan sesi pertama, IHSG naik 40,78 poin atau 0,51 persen ke level 8.107,30, sementara indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan ikut menguat 5,90 poin atau 0,76 persen ke posisi 777,79.

- Advertisement -

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, mengatakan bahwa meski IHSG dibuka menguat, indeks masih berpotensi mengalami koreksi jangka pendek dan menguji level support di kisaran 7.950–8.000.

“Diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi dan menguji level support di 7.950-8.000,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Rabu (15/10).

- Advertisement -

Dalam pidatonya pada Selasa (14/10), Ketua The Fed Jerome Powell menyebutkan bahwa lembaganya mendekati fase untuk mempertimbangkan penghentian program pengetatan kuantitatif. Powell juga memperingatkan bahwa penundaan pemangkasan suku bunga dapat memicu hilangnya lapangan kerja di AS.

Dari sisi eksternal, ketegangan hubungan perdagangan antara Amerika Serikat dan China kembali meningkat. Pemerintah China memperketat kontrol terhadap sektor pelayaran global dengan menjatuhkan sanksi kepada lima anak usaha Hanwha Ocean asal Korea Selatan di AS, dengan alasan penguatan keamanan nasional.

Menanggapi hal itu, Presiden AS Donald Trump mengkritik langkah China yang dinilai tidak membeli kedelai dari AS, bahkan mengancam akan meninjau ulang kerja sama perdagangan terkait komoditas minyak goreng. Meski demikian, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memastikan bahwa Trump tetap dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan pada akhir Oktober 2025.

Dari dalam negeri, pemerintah melaporkan defisit APBN hingga September 2025 mencapai 1,56 persen terhadap PDB atau sekitar Rp371,5 triliun, meningkat dari posisi Agustus sebesar 1,35 persen. Meski demikian, defisit ini masih lebih rendah dari target APBN 2025 yang sebesar 2,78 persen dari PDB.

- Advertisement -

Selain itu, pelaku pasar juga menantikan rilis data Foreign Direct Investment (FDI) kuartal III-2025, yang diperkirakan turun sekitar 6 persen setelah penurunan 7 persen pada kuartal sebelumnya. Data ini dipandang sebagai indikator penting bagi prospek pertumbuhan ekonomi nasional.

Pada perdagangan Selasa (14/10), bursa saham Eropa mayoritas ditutup melemah. Indeks Euro Stoxx 50 turun 0,16 persen, DAX Jerman melemah 0,62 persen, dan CAC 40 Prancis turun 0,18 persen, sementara FTSE 100 Inggris justru naik tipis 0,10 persen.

Sementara itu, bursa saham AS di Wall Street ditutup variatif pada perdagangan Selasa (14/10/2025) , diantaranya S&P 500 melemah 0,2 persen ke 6.644,31, indeks Nasdaq melemah 0,8 melemah ke 22.521,70, sementara Dow Jones menguat 0,4 persen ke 46.270,46

Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei menguat 599,64 poin atau 1,28 persen ke 47.477,80, indeks Shanghai menguat 17,46 poin atau 0,44 persen ke 3.882,25, indeks Hang Seng menguat 389,32 poin atau 1,53 persen ke 25.802,50, dan indeks Strait Times menguat 13,12 poin atau 0,31 persen ke 4.367,07.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img