DBS: Nilai E-Commerce Asia Tenggara Diprediksi Tembus USD 410 Miliar pada 2030

Industri e-commerce di Asia Tenggara diprediksi akan mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Menurut laporan terbaru dari Bank DBS yang bekerja sama dengan perusahaan riset Cube, nilai penjualan e-commerce di kawasan ini diperkirakan meningkat lebih dari dua kali lipat, dari 184 miliar dolar AS pada 2024 menjadi 410 miliar dolar AS pada 2030.

Proyeksi ini tertuang dalam laporan perdana DBS Nextwave Southeast Asia 2025, yang menggambarkan babak baru pertumbuhan sektor digital di Asia Tenggara. Pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sektor e-commerce diperkirakan mencapai 14% selama enam tahun ke depan, menandai transisi dari fase pertumbuhan cepat ke arah pertumbuhan berkelanjutan dan berbasis teknologi.

- Advertisement -

Chua Shih Guan, Head of Digital Economy Group, Institutional Banking Bank DBS, mengungkapkan bahwa lanskap e-commerce kini bergerak dari sekadar promosi dan diskon menuju penciptaan pengalaman pelanggan yang lebih inovatif.

“Seiring dengan matangnya sektor e-commerce di kawasan ini, kami melihat pergeseran dari sekadar menawarkan promosi dan diskon menuju pengalaman pelanggan yang lebih inovatif dan berbeda. Ini dicapai melalui investasi di area seperti personalisasi berbasis AI, logistik yang lebih baik, dan keuangan yang lebih tangguh,” ujar Head of Digital Economy Group, Institutional Banking Bank DBS Chua Shih Guan dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (16/5).

- Advertisement -

Sejak 2012, nilai penjualan e-commerce di Asia Tenggara telah melonjak 46 kali lipat—dari hanya 4 miliar dolar AS menjadi 184 miliar dolar AS di tahun 2024. Pertumbuhan ini ditopang oleh perubahan perilaku konsumen yang semakin mengandalkan platform digital untuk berbelanja.

Seiring kematangan pasar, sejumlah raksasa e-commerce di kawasan ini telah menunjukkan profitabilitas. Faktor pendorongnya meliputi konsolidasi pangsa pasar, efisiensi biaya layanan, dan fokus pada inti bisnis yang lebih tajam. Pemain besar mulai beralih dari ekspansi agresif ke pendekatan yang lebih efisien dan berorientasi jangka panjang.

Teknologi kecerdasan buatan (AI) disebut menjadi penggerak utama dalam personalisasi pengalaman belanja. Pemanfaatan AI memungkinkan platform e-commerce menawarkan layanan yang lebih personal, imersif, dan terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari pengguna.

Dalam konteks pendanaan, DBS mencatat bahwa perusahaan teknologi di Asia Tenggara—baik yang masih dalam tahap rintisan maupun yang telah tumbuh besar—akan mulai beralih dari dominasi modal ventura dan ekuitas swasta menuju pembiayaan berbasis kredit. Strategi ini diharapkan mampu menekan biaya modal dan menciptakan pertumbuhan yang lebih sehat.

- Advertisement -

Seiring dengan semakin matangnya sektor e-commerce di kawasan ini, berbagai platform mulai beralih dari ekspansi cepat menuju pertumbuhan yang berkelanjutan.

Optimalisasi biaya, memastikan pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan, serta membangun basis pelanggan yang lebih setia dan mendalam akan menjadi faktor kunci keberhasilan dalam fase pengembangan berikutnya.

Penekanan pada pertumbuhan berkelanjutan juga dapat mengubah struktur modal perusahaan teknologi di Asia Tenggara.

“Secara historis, mereka bergantung pada pembiayaan ekuitas melalui modal ventura dan dana ekuitas swasta. Ke depannya, baik perusahaan rintisan (start-up) maupun perusahaan yang berkembang (scale-up) mungkin akan mencari struktur modal yang lebih seimbang dengan fokus pada pertumbuhan yang didukung oleh kredit untuk menurunkan biaya modal,” jelas Chua Shih Guan.

Sementara, Co-Founder Cube Simon Torring mengatakan sektor e-commerce telah menjadi salah satu kekuatan paling transformatif dalam perjalanan digital Asia Tenggara.

Tidak hanya mengubah cara orang berbelanja, tetapi mereka juga meletakkan dasar bagi pertumbuhan di sektor logistik, pembayaran, fintech, dan infrastruktur digital.

“Seiring sektor ini memasuki fase baru, platform-platform akan semakin cerdas, lebih terfokus, dan lebih terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Evolusi ini mencerminkan seberapa jauh kawasan ini telah berkembang, dan seberapa besar potensi yang masih terbentang di depan,” terangnya.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img