PT Great Eastern General Insurance Indonesia (GEGI) tengah menyiapkan berbagai strategi inovatif untuk mencapai target pendapatan premi pada tahun 2025.
Marketing Director Great Eastern General Insurance Indonesia, Linggawati Tok, mengungkapkan bahwa langkah-langkah ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan premi hingga Rp 953 miliar pada 2025, meningkat 10% dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Salah satu strategi utama yang diterapkan adalah fokus pada pasar retail, khususnya sektor Usaha Kecil dan Menengah (Small Medium Enterprise/SME). Selain itu, perusahaan juga akan memperkuat jaringan agen dan mengembangkan insurtech guna memperluas jangkauan pasar serta meningkatkan variasi produk.
Baca Juga: GEGI Fokus Perluas Bisnis Lewat Pengembangan Agen Asuransi
“Kami juga akan melakukan digitalisasi dan inovasi produk dengan menghadirkan beberapa produk baru yang dirancang untuk menyasar segmen pasar tertentu,” ujar Linggawati, Jumat (7/3).
Selain strategi internal, Great Eastern General juga berencana memperluas kolaborasi dengan berbagai industri. Kerja sama dengan bank, insurtech, dan fintech akan semakin ditingkatkan untuk menghadirkan produk asuransi yang lebih sesuai dengan kebutuhan spesifik konsumen.
Linggawati optimistis bahwa dengan pendekatan inovatif dan fokus pada kebutuhan pelanggan, GEGI memiliki peluang besar untuk bertumbuh, meskipun terdapat tantangan yang harus dihadapi pada 2025.
Tantangan yang Dihadapi di 2025
Namun, Linggawati tidak menampik adanya berbagai tantangan yang berpotensi memengaruhi industri asuransi pada 2025. Salah satu faktor utama adalah ketidakpastian ekonomi, baik di tingkat domestik maupun global.
Di dalam negeri, sektor industri menghadapi tantangan dengan meningkatnya jumlah perusahaan yang tutup serta pemutusan hubungan kerja (PHK), yang dapat berdampak pada daya beli masyarakat. Selain itu, faktor inflasi serta fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS juga menjadi tantangan tersendiri.
Selain faktor ekonomi, persaingan antarperusahaan asuransi umum juga semakin ketat. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan perusahaan dalam memenuhi persyaratan ekuitas minimum yang ditetapkan untuk 2026 dan 2028.
Tantangan lainnya meliputi meningkatnya risiko bencana alam dan perubahan iklim, seperti banjir dan gempa bumi, yang berpotensi meningkatkan klaim asuransi dalam jumlah besar. Hal ini tentunya dapat berpengaruh terhadap stabilitas keuangan perusahaan.
Linggawati juga mencermati perubahan perilaku konsumen yang semakin mengandalkan digitalisasi dan mengharapkan pengalaman transaksi yang lebih cepat. Oleh karena itu, perusahaan harus mampu beradaptasi dengan tren ini agar tetap kompetitif dalam memperoleh premi di tahun mendatang.
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News































