Harga saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 3,26% ke level Rp 3.860 pada perdagangan Jumat, 14 Februari 2025. Sepanjang sesi tersebut, sebanyak 524,91 juta saham BBRI berpindah tangan dengan 93.888 transaksi, menghasilkan nilai perdagangan Rp 2,05 triliun. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 811 miliar.
Dalam tiga bulan terakhir, saham BBRI telah turun 11,26%, sementara dalam setahun koreksinya mencapai 36,72%. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 10,4 triliun dalam periode tiga bulan terakhir.
Valuasi dan Dividen Menarik
Menurut RHB Sekuritas, valuasi dan potensi dividen BBRI tetap menarik. Saat ini, rasio price to book value (P/BV) BBRI untuk estimasi tahun 2026 berada di angka 1,7 kali. Sementara itu, rasio pembayaran dividen meningkat menjadi 85%.
Baca Juga: Dukung UMKM dan Ekonomi Kerakyatan, BRI Pertahankan Stabilitas Kinerja di 2024
Sepanjang 2024, BBRI mencatatkan laba bersih sebesar Rp 60,2 triliun, yang stagnan secara tahunan (yoy). Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan kredit yang lebih lambat, yaitu 7% yoy dibandingkan target 10-12%, serta meningkatnya biaya kredit (cost of credit/CoC) menjadi 3,23%, lebih tinggi dari panduan 3%.
Pada Desember 2024, rasio loan to deposit ratio (LDR) BBRI mencapai 99,21%, hampir sama dengan September 2024 yang berada di level 99,33%. Namun, angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Desember 2023 yang tercatat sebesar 93,23%.
Proyeksi Likuiditas dan Risiko Kredit
RHB Sekuritas memperkirakan kondisi likuiditas ketat pada semester II-2024 kemungkinan masih berlanjut pada kuartal I-2025. BBRI juga telah menurunkan target margin bunga bersih (net interest margin/NIM) untuk 2025 menjadi 7,3-7,7%, dari sebelumnya 7,74% pada 2024.
Di sisi lain, kualitas aset BBRI mengalami perbaikan. Loan at risk (LAR) turun menjadi 10,7% pada Desember 2024, dibandingkan 11,66% pada September 2024 dan 12,47% pada Desember 2023. Sementara itu, non-performing loan (NPL) juga mengalami penurunan menjadi 2,78% dari 2,9% pada September 2024 dan 2,95% pada Desember 2023.
NPL coverage tercatat sebesar 215,01%, sedikit turun dari 215,44% pada September 2024 dan 229,09% pada Desember 2023. Namun, LAR coverage meningkat menjadi 55,94%, dari 53,56% pada September 2024 dan 54,14% pada 2023.
“BBRI tetap berhati-hati dalam menghadapi risiko kredit dan mempertahankan proyeksi CoC untuk 2025 di kisaran 3-3,2%. Bank ini juga menargetkan penyelesaian penuh NPL kredit mikro 2023 pada 2025, dengan alokasi biaya kredit di kuartal I-2025,” ujar Andrey Wijaya, analis RHB Sekuritas.
Dividen Final dan Target Harga Saham
BBRI telah menetapkan rasio pembayaran dividen sebesar 85%, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 80%. Dengan dividen interim yang telah dibayarkan sebesar Rp 135 per saham, dividen final diperkirakan mencapai Rp 204 per saham. Dengan demikian, imbal hasil (dividend yield) dividen final diperkirakan sekitar 5%.
RHB Sekuritas juga merevisi proyeksi laba bersih BBRI untuk 2025-2026, masing-masing turun sebesar 6% dan 8%, seiring dengan revisi asumsi NIM yang lebih rendah serta biaya kredit yang lebih tinggi.
Meski demikian, laba BBRI masih diproyeksikan tumbuh sebesar 8% yoy pada 2025 (lebih rendah dari estimasi awal 12%), didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar 11% yoy, ekspansi kredit yang solid, serta stabilitas NIM. Namun, peningkatan CoC menjadi 3,35% menjadi faktor pembatas bagi pertumbuhan laba.
Sejalan dengan itu, RHB Sekuritas menyesuaikan target harga saham BBRI menjadi Rp 5.400 dari sebelumnya Rp 5.700. Target harga ini telah memperhitungkan revisi nilai buku serta laba terbaru, dengan nilai intrinsik saham berada di Rp 5.069. Rekomendasi tetap “buy” dengan mempertimbangkan premi ESG sebesar 6%, mengingat skor ESG BBRI yang mencapai 3,3 dari 4.
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

































