PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menargetkan percepatan investasi di lima sektor utama melalui Mandiri Investment Forum (MIF) 2025.
Kelima sektor tersebut mencakup pertambangan mineral dan hilirisasi, minyak dan gas (migas), manufaktur, energi terbarukan, serta infrastruktur.
“Melalui sesi Business Matching ini, kami menargetkan percepatan investasi di lima sektor utama yang selaras dengan prioritas pemerintah, yaitu mineral mining & downstreaming, minyak & gas, manufaktur, energi terbarukan, serta konstruksi dan infrastruktur dari 44 perusahaan dalam dan luar negeri,” ujar Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri, Eka Fitria, dalam konferensi pers MIF 2025 di Jakarta, Selasa.
Baca Juga: Dengan Teknologi VIDA, Bank Mandiri Perkenalkan Fitur Online Onboarding
Bank Mandiri kembali menggelar Mandiri Investment Forum 2025 yang memasuki tahun ke-14 penyelenggaraannya.
Dengan tema “Nourishing Future Growth”, MIF 2025 membahas strategi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah tantangan global dan peluang investasi yang terus berkembang.
Tahun ini, MIF menghadirkan lebih dari 22.000 peserta, termasuk lebih dari 700 investor asing dari berbagai negara.
Dalam sesi Macro Day, Eka menjelaskan bahwa Bank Mandiri mendukung inisiatif pemerintah dalam meningkatkan iklim investasi melalui berbagai program strategis. Salah satu bentuk komitmen tersebut adalah kehadiran kantor luar negeri (KLN) Bank Mandiri.
Saat ini, Bank Mandiri memiliki lima KLN di Singapura, Hong Kong, Shanghai (China), Cayman Island, dan Dili (Timor Leste), serta dua kantor anak perusahaan di Kuala Lumpur (Malaysia) dan London (Inggris).
Keberadaan KLN ini telah membantu lebih dari 100 ribu nasabah korporasi dan ritel dengan berbagai layanan keuangan guna mendukung bisnis mereka. Selain mendukung kepentingan korporasi Indonesia di luar negeri, KLN juga menjembatani kebutuhan perusahaan global yang ingin berbisnis di Indonesia.
“Bank Mandiri memiliki jaringan luas dengan institusi keuangan, dengan lebih dari 900 bank koresponden di 35 negara. Jaringan ini memperkuat posisi kami di pasar global dan mendukung pertumbuhan bisnis,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana, menyatakan bahwa MIF 2025 bertepatan dengan awal masa pemerintahan Presiden Prabowo, yang membawa program strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pengadaan tiga juta rumah murah.
Sebagai bagian dari agenda MIF, Mandiri Sekuritas mengadakan Site Visit ke perusahaan dan pusat dapur umum MBG serta perumahan murah. Selain itu, Corporate Day mempertemukan perusahaan terbuka (Tbk) dengan calon investor melalui one-on-one meetings atau diskusi kelompok kecil.
Acara ini berhasil menarik 400 investor, dengan 40% di antaranya berasal dari luar negeri, termasuk dari Hong Kong, Singapura, Malaysia, Thailand, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Norwegia, Uni Emirat Arab, dan Australia.
Total dana kelolaan investor yang hadir di MIF 2025 mencapai 18,65 triliun dolar AS, meningkat signifikan dari tahun sebelumnya yang sebesar 14 triliun dolar AS.
Dari sisi makroekonomi, Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menyebutkan bahwa Indonesia berada dalam posisi yang relatif kuat di tengah perlambatan ekonomi global.
“Momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia masih solid, didukung oleh kebijakan fiskal ekspansif, stabilitas inflasi, serta kinerja ekspor yang tetap positif di beberapa sektor unggulan. Kami juga melihat potensi perbaikan investasi seiring tren pemangkasan suku bunga global,” ungkapnya.
Menurut Andry, kebijakan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral di berbagai negara dapat menjadi katalis bagi peningkatan aliran modal ke Indonesia. Meski demikian, volatilitas pasar global tetap perlu diantisipasi.
Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat. Pada 2024, pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,03%, menjadikannya salah satu yang paling kompetitif di antara negara-negara berkembang.
Selain itu, tren investasi terus meningkat, tercermin dari pertumbuhan Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 4,61%—angka tertinggi dalam enam tahun terakhir—menunjukkan optimisme investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
“Dengan berbagai indikator positif ini, Indonesia siap memasuki fase pertumbuhan yang lebih kuat dan berkelanjutan di tahun-tahun mendatang,” pungkas Andry.
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News































