PT Bank Danamon Indonesia Tbk berharap Bank Indonesia (BI) dapat kembali menurunkan suku bunga acuan (BI-Rate) setidaknya satu kali lagi pada tahun ini. Penurunan tersebut diharapkan memberikan dampak positif bagi industri perbankan secara keseluruhan, termasuk bagi Bank Danamon.
“Secara perbankan, kami berharap akan ada satu kali pemangkasan lagi dari BI. Namun, kami belum bisa memastikan apakah itu akan terjadi dalam pertemuan besok atau berikutnya. Kami berharap pemangkasan ini terjadi pada semester pertama 2025,” ujar Direktur Keuangan Bank Danamon, Muljono Tjandra, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.
Bank Indonesia dijadwalkan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu (19/2). Sebelumnya, pada Januari 2025, BI telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen.
Baca Juga: Bank Danamon Luncurkan Program DHB 2025 dengan Hadiah Menarik
Muljono menambahkan, penurunan suku bunga yang berkelanjutan akan berdampak positif tidak hanya bagi bisnis Bank Danamon tetapi juga terhadap perbaikan likuiditas perbankan.
Sepanjang 2024, Bank Danamon mencatatkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 9 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp153,2 triliun. Pendanaan granular juga mengalami peningkatan sebesar 8 persen yoy, mencapai Rp93,6 triliun.
Muljono mengakui bahwa menjelang akhir 2024, terdapat tekanan terhadap DPK. Untuk mengatasi hal tersebut, Bank Danamon mengambil langkah strategis dengan meningkatkan pendanaan granular serta menentukan strategi harga deposito berjangka (TD) dan dana murah (current account savings account/CASA) secara lebih hati-hati.
“Kami telah mengantisipasi adanya nasabah yang beralih dari CASA ke instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi seperti TD dan wealth management. Namun, pendanaan kami tetap tumbuh dengan baik untuk mendukung ekspansi kredit,” ujarnya.
Dalam hal intermediasi, Bank Danamon membukukan pertumbuhan kredit dan trade finance secara konsolidasian sebesar 8 persen yoy menjadi Rp189,4 triliun. Sementara itu, margin bunga bersih (NIM) konsolidasian tercatat sebesar 7,3 persen.
Muljono mengakui bahwa terdapat tekanan terhadap NIM, yang menyebabkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Oleh karena itu, untuk menjaga profitabilitas, Bank Danamon terus mendorong pertumbuhan pendapatan berbasis komisi (fee-based income), yang meningkat sebesar 11 persen yoy dari berbagai sektor, baik kredit maupun nonkredit.
Sepanjang 2024, Bank Danamon mencatat laba bersih setelah pajak (NPAT) sebesar Rp3,2 triliun. Pendapatan operasional konsolidasian mencapai Rp18,9 triliun atau tumbuh 4 persen yoy, sementara pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) tercatat Rp8,3 triliun atau meningkat 1 persen yoy.
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

































