Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) mengungkapkan bahwa ekspor kelapa Indonesia masih kalah dibandingkan Filipina, meskipun Indonesia memiliki lahan yang lebih luas untuk budidaya kelapa. Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti, menekankan potensi besar kelapa sebagai komoditas unggulan Indonesia.
Dalam seminar nasional bertajuk ‘Urgensi Industrialisasi Untuk Mencapai Pertumbuhan 8%’, Amalia mengungkapkan bahwa Indonesia pernah menjadi produsen kelapa terbesar di dunia, namun kini posisinya turun menjadi kedua setelah Filipina. “Padahal, lokasi Indonesia lebih luas dan beriklim tropis, seharusnya kita lebih potensial dalam mengelola kelapa,” ujarnya di Jakarta, belum lama ini.
Amalia menjelaskan bahwa rendahnya produktivitas kelapa di Indonesia disebabkan oleh pengelolaan yang masih konvensional. Sebanyak 98% kelapa dikelola oleh petani kecil, tanpa adanya perkebunan yang dikelola secara masif. Hal ini menyebabkan potensi kelapa yang sangat besar tidak dimanfaatkan secara optimal.
Dia juga mencatat tingginya permintaan akan produk kelapa di pasar internasional, namun sayangnya, sebagian besar ekspor Indonesia masih berupa butiran kelapa mentah, bukan produk bernilai tambah. Amalia menyoroti bahwa olahan kelapa, seperti medium chain triglyceride (MCT), memiliki permintaan tinggi di Eropa dan dapat memberikan nilai ekonomi lebih.
Sebagai contoh, dia mengungkapkan bahwa pabrik di Jerman mengalami kesulitan dalam mencari bahan baku MCT dan harus menggantinya dengan minyak sawit. “Mengapa kita tidak memproduksi MCT di sini? Mengapa kita hanya mengekspor butiran kelapa?” tanyanya, menekankan pentingnya hilirisasi dalam industri kelapa Indonesia.
Dengan langkah strategis dalam mengelola dan mengolah kelapa, Amalia optimis Indonesia bisa kembali menjadi pemimpin pasar global dalam ekspor kelapa dan produk turunannya.





























