Target Presiden terpilih Prabowo Subianto untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% dalam lima tahun ke depan dapat terwujud dengan pendekatan yang komprehensif. Pendapat ini disampaikan oleh ekonom senior Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Hendri Saparini, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (17/10).
Hendri menawarkan tiga pendekatan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkualitas, guna membantu Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).
“Pertama, mengimplementasikan pendekatan ekonomi Pancasila yang bersifat ekonomi kerakyatan,” jelasnya. Ia mengutip pesan dari pendiri Republik Indonesia bahwa kegiatan ekonomi perlu dilakukan secara bersama-sama.
“Dengan demikian, tidak ada lagi orang menganggur dan kesulitan mendapatkan pendapatan karena tidak punya kesempatan kerja,” tegas Hendri. Ia menilai bahwa pemerintah perlu membuat kebijakan ekonomi yang memungkinkan setiap individu berkontribusi secara produktif.
Pendekatan kedua adalah merevitalisasi industri. “Belajar dari negara-negara yang sudah maju, mereka berhasil naik kelas karena melakukan lompatan ekonomi, utamanya melalui industrialisasi,” ungkapnya. Hendri menggarisbawahi pentingnya revitalisasi industri untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara signifikan, dengan membangun industri dasar dan menggerakkan semua sektor di seluruh daerah.
Hendri juga menjelaskan bahwa industri manufaktur bisa menjadi jangkar untuk membangun hubungan antara BUMN dan sektor swasta, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pendekatan ketiga adalah menerapkan strategi industri yang lebih canggih dan inovatif. “Pemerintah perlu menjadikan industri pemastian sebagai penyokong revitalisasi industri,” ujarnya. Jasa pemastian yang disediakan oleh BUMN dalam bidang penjaminan mutu, sertifikasi, dan standardisasi sangat penting untuk mendukung kebijakan hilirisasi.
Hendri menambahkan bahwa kebijakan hilirisasi industri tambang perlu memvalidasi kandungan bahan tambang seperti nikel dan bauksit. “Dengan adanya kebijakan pemastian kandungan ini, potensi kerugian negara akibat perselisihan juga bisa dicegah,” jelasnya.
Sebelumnya, Prabowo Subianto menegaskan optimisme untuk mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 8% dengan menyatakan, “Kita harus berani menaruh sasaran yang lebih tinggi. Kalau saya optimis kita bisa mencapai 8 persen.” Pernyataan ini disampaikan saat peluncuran Geoportal Kebijakan One Satu Peta 2.0 dan penyampaian hasil capaian Proyek Strategis Nasional (PSN) di Jakarta.
Dengan pendekatan-pendekatan yang diusulkan, diharapkan Indonesia dapat mencapai target pertumbuhan ekonomi yang ambisius dan berkelanjutan.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News
































