Bapanas: Indonesia Defisit Beras Sepanjang QIV-2024

BADAN Pangan Nasional (Bapanas) memproyeksi neraca produksi beras akan terus defisit sepanjang kuartal IV 2024, menandai kondisi pertama kali defisit sejak surplus pada 2019. Total defisit neraca produksi beras pada Oktober-November 2024 diperkirakan mencapai 2,36 juta ton. Hal ini disebabkan oleh produksi yang hanya mencapai 5,4 juta ton, sementara konsumsi meningkat 1,04% secara tahunan menjadi 7,76 juta ton.

Secara agregat, volume produksi beras tahun ini diprediksi menyusut 2,44% menjadi 30,34 juta ton, sedangkan konsumsi diperkirakan naik 1,01% menjadi 30,92 juta ton. “Dengan demikian, neraca produksi beras sepanjang tahun ini diperkirakan bakal minus hingga 590.000 ton,” ungkap Bapanas. Angka tersebut mencerminkan penurunan yang signifikan, lebih rendah 222,92% dibandingkan realisasi neraca produksi pada 2023 yang surplus 480.000 ton.

- Advertisement -

Mantan Direktur Utama Perum Bulog, Bayu Krisnamurthi, menyarankan pemerintah untuk mempercepat penugasan impor beras tahun depan. “Stok terakhir Bulog pada akhir tahun ini diproyeksi hanya 1,5 juta ton akibat penyaluran bantuan pangan,” jelasnya. Saat ini, cadangan beras pemerintah mencapai 1,35 juta ton dan diperkirakan akan meningkat menjadi 2,45 juta ton setelah kedatangan beras impor sebanyak 900.000 ton hingga akhir tahun.

Bulog menargetkan serapan beras lokal sebesar 200.000 ton pada Agustus-Oktober 2024, tetapi akan menyalurkan 900.000 ton bantuan pangan pada Oktober dan Desember. Bayu menekankan, “Untuk mengantisipasi defisit 3 juta ton pada Januari-Februari 2025, kami sangat berharap penugasan penambahan stok sudah diberikan lebih awal.”

- Advertisement -

Kondisi ini diperburuk oleh musim paceklik yang diprediksi akan berlangsung dari November 2024 hingga Februari 2025, akibat pergeseran musim penghujan. Di sisi lain, Kementerian Pertanian mencatat peningkatan produksi beras tahunan sebesar 780.000 ton pada September-November 2024, berkat program pompanisasi dan ekstensifikasi lahan sawah. Sekretaris Jenderal Kementan, Prihasto Setyanto, menyatakan bahwa kedua program tersebut berhasil menciptakan tren positif dalam produksi beras domestik.

Dengan proyeksi defisit yang terus berlanjut, langkah pemerintah dan Bulog menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas pangan nasional menjelang tahun 2025.

 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img