Bank Indonesia Perluas Insentif Likuiditas untuk Dorong Pertumbuhan Kredit Sektor Padat Karya

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengumumkan bahwa pihaknya akan memperluas insentif kebijakan likuiditas makroprudensial (KLM) ke sektor padat karya mulai 1 Januari 2025. Langkah ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan kredit dan pembiayaan di sektor usaha yang dapat menciptakan lapangan kerja.

Selama ini, insentif KLM difokuskan pada sektor padat modal seperti hilirisasi mineral dan batu bara (minerba) serta industri otomotif. Namun, dengan perluasan ini, BI akan memberikan insentif juga kepada bank-bank yang aktif menyalurkan kredit ke sektor perdagangan, pertanian, industri pengolahan, perumahan, dan transportasi.

“Insentif ini berupa pemotongan setoran Giro Wajib Minimum (GWM) dalam rupiah yang harus disetorkan ke BI, dengan besaran KLM ditetapkan maksimal empat persen,” jelas Perry dalam konferensi pers yang dilansir Media Indonesia pada Rabu, 16 Oktober 2024.

Perry menekankan bahwa pertumbuhan kredit tetap kuat, dengan angka mencapai 10,85 persen secara tahunan pada September 2024. Dukungan likuiditas dari BI dan minat bank untuk menyalurkan kredit menjadi faktor pendorong utama dalam pertumbuhan ini. Hingga minggu kedua Oktober 2024, BI telah menyalurkan insentif KLM sebesar Rp256,5 triliun, dengan kontribusi terbesar berasal dari bank BUMN, diikuti oleh Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) dan Bank Pembangunan Daerah (BPD).

Dengan adanya perluasan insentif KLM ke sektor padat karya, diharapkan pertumbuhan kredit dapat berlanjut dan berdampak positif pada ekonomi nasional, serta meningkatkan penciptaan lapangan kerja di berbagai sektor.

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img