InfoEkonomi.ID – PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau Pelni memastikan akan terus meningkatkan pelayanan penyeberangan. Salah satunya adalah penggantian kapal-kapal tua secara bertahap.
Renovasi kapal tersebut diharapkan akan dibiayai dengan dana Penyertaan Modal Negara (PMN) yang akan diterima Pelni sebesar Rp 4 triliun.
Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menyambut baik upaya peningkatan pelayanan transportasi laut. Sebab, infrastruktur transportasi menjadi tulang punggung masyarakat, khususnya warga yang tinggal di wilayah 3T (daerah tertinggal, terpencil, dan perbatasan).
Baca Juga :
Tekankan Keberhasilan Transformasi, PT PELNI Resmikan Logo & Tagline Baru
“Kita tahu wilayah Indonesia sebagian besar berupa perairan. Tidak semuanya terhubung melalui jalan darat. Ada bus atau kereta api di Pulau Jawa. Bagaimana dengan pulau?” tanya Djoko pada acara Rakyat Merdeka di Jakarta kemarin Djoko mengatakan, dari segi tarif, angkutan laut lebih murah dibandingkan angkutan udara atau udara.
“Tiket pesawat mahal, sehingga kapal bisa menjadi alternatif sarana transportasi masyarakat (di kawasan 3T),” ujarnya.
Dikatakannya, pemerintah memiliki program tol laut yang mengangkut logistik ke daerah. Program ini berhasil menciptakan keterhubungan antar daerah.
Menurut Djoko, peran Pelni sangat penting dalam program ini. Sayangnya, layanan transportasi Pelni masih terbatas sehingga belum optimal, yang seharusnya memungkinkan ketersediaan armada yang lebih baik dan dapat menambah jumlah rute kapal. dengan tol laut.
Baca Juga :
“Kapal-kapal Indonesia sudah tua dan tidak memenuhi standar keselamatan. Sementara biaya pembelian dan renovasi kapal sangat tinggi,” kata PMN.
“Dengan dukungan pemerintah, kami berharap dapat mengintegrasikan layanan penyeberangan agar semakin optimal”, pungkas Djoko.
Lebih lanjut, Direktur Senior Pelni Tri Andayani menjelaskan saat ini tren minat masyarakat terhadap penggunaan transportasi laut sangat tinggi seiring dengan pulihnya mobilitas masyarakat pasca pandemi Covid-19.
Dengan kondisi tersebut, dia meminta Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memberikan pengecualian untuk mengangkut penumpang maksimal 150 persen dari kapasitas kapal.
“Agar bisa lebih efektif dalam membantu mendukung akses masyarakat,” kata Andayani, sapaan akrab Andayani, di Jakarta, Jumat (8/2/2024).
Andayani menjelaskan, jumlah penumpang sebelum pandemi Covid-19 tercatat sekitar 5,4 juta dalam satu tahun.
Sampai akhir tahun 2023, PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) mencatatkan total penumpang sebanyak 5,3 juta orang.
“Pada semester I-2024 akan ada 2,6 juta penumpang. Saya prediksi di akhir tahun 2024 bisa mencapai 5,4 hingga 5,5 juta penumpang,” ujarnya.
Optimis Jumlah penumpang kapal PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) akan terus bertambah seiring masih adanya libur Natal dan Tahun Baru 2025
Saat ini perseroan memiliki 32 armada dan terdapat 26 kapal penumpang dengan kapasitas berbeda-beda yaitu, 3000 orang, 1000 orang sampai dengan kapasitas terkecil 500 orang.
Selain itu, PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) juga mengoperasikan 50 armada kapal milik Kementerian Perhubungan yang terdiri dari kapal perintis, jaring, sapi dan beberapa kapal carter laut.
Cabang PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) dari Sabang sampai Merauke atau Rote sampai Miangas berjumlah 44 cabang dengan 306 titik terminal.
Seluruh kapal PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) menuju lebih dari 306 pelabuhan, baik yang dikelola oleh PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo maupun oleh Kantor Unit Organisasi Pelabuhan (KUPP).
“Peran Pelni adalah sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang pengangkutan dan pengangkutan. Dan menjadi satu-satunya perusahaan yang melayani angkutan penumpang,” ujarnya.
Sayangnya, beberapa kapal Pelni berusia di atas 30 tahun. Ia kemudian mencontohkan Kapal Umsini dan Kapal Kelimutu yang berusia 39 tahun, serta Kapal Lawi yang akan berusia 38 tahun pada tahun 2024.
“Rencananya kami akan mengganti 12 kapal lama dengan membeli kapal baru di tahun 2024. Tahap 2024 “Kapal-kapal yang akan diganti diklasifikasikan berdasarkan umur kapal tertua,” jelasnya.
Pembiayaan Investasi 2024 dan usulan APBN (anggaran pendapatan dan belanja negara) Rp 2,5 triliun, “Dari PMN Rp1,5 triliun yang disetujui akan digunakan untuk membayar deposit 3 kapal,” ujarnya.
Sementara usulan PMN sebesar Rp 2,5 triliun pada tahun depan akan digunakan untuk membeli 2 kapal baru sehingga akan menambah arus kas perseroan.
Menurut perhitungannya, pembangunan kapal baru membutuhkan dana sekitar Rp 1,5 triliun per unit.
Artinya, lanjutnya, jika dihitung penggantian 12 kapal tua tersebut, Pelni membutuhkan anggaran sekitar Rp 18 triliun, “Makanya usulan PMN ini bersifat progresif, karena kalau diberi hak (membeli) 12 kapal, maka galangan kapal besar hanya bisa (memproduksi) 3 kapal,” lanjutnya.
Ditambahkannya, jika PMN di Pelni cair pada Desember 2024, kemungkinan besar perseroan akan menyelesaikan proses pemilihan konsultan dan perancangan kapal pada akhir tahun 2025.
Sementara itu, proses pembuatan kapal . sedang dalam pengembangan. diharapkan bisa dimulai pada awal tahun 2026.
“Kalau tahun 2026 mulai terwujud, berarti selesai akhir tahun 2028. Dengan demikian, kapal tersebut sudah bisa digunakan pada tahun 2029,” harapnya.
Sampai saat ini Pelni telah menemukan pembangunan kapal ini di banyak negara di Eropa dan Asia. “Kami juga memastikan pengadaan kapal dilakukan secara transparan, melalui proses tender yang kompetitif dan berpedoman pada tata kelola perusahaan yang baik,” tutupnya.

































