Indonesia Impor Minyak 297 Juta Barel, Kuras Devisa Rp396 Triliun

InfoEkonomi.ID – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa neraca minyak bumi Indonesia pada tahun 2023 menunjukkan ketergantungan tinggi pada impor. Total impor minyak nasional mencapai 297 juta barel, terdiri dari 129 juta barel minyak mentah dan 168 juta barel bahan bakar minyak (BBM). Akibatnya, impor minyak menguras devisa negara hingga Rp396 triliun.

Dalam konferensi di Program Executive Course on Strategic Management and Leadership Cohort-4 Universitas Pertahanan, Bahlil menguraikan bahwa konsumsi BBM nasional tahun lalu mencapai sekitar 505 juta barel. Sementara itu, produksi minyak domestik hanya mencapai 221 juta barel.

- Advertisement -

Distribusi konsumsi BBM meliputi sektor transportasi sebesar 248 juta barel (49%), sektor industri 171 juta barel (34%), sektor ketenagalistrikan 38,5 juta barel (8%), dan sektor aviasi 28,5 juta barel (6%).

Baca juga : Kenaikan Harga Minyak Mentah Dunia Picu Peningkatan ICP Indonesia

Oleh karena itu, jelas Bahlil, pemerintah tengah meracik strategi agar impor minyak tersebut bisa dikurangi, karena tidak mungkin dengan menurunkan konsumsi minyak, sehngga konsumsi akan terus naik.

- Advertisement -

“Strategi kita dengan melihat keunggulan dan kelemahan kita, yang pertama adalah optimalisasi produksi (minyak bumi) dengan teknologi. Saya kasih contoh di Banyu Urip, itu dikerjakan oleh ExxonMobil. Itu yang didapatkan pertama itu cuma kurang lebih sekitar 90-100 ribu Barrel Oil per Day (BOPD). Tapi kemudian diinjeksi dengan teknologi yang mereka miliki, dan sekarang itu bisa mencapai 140-160 ribu BOPD,” jelasnya.

Strategi kedua, lanjutnya, adalah dengan melakukan reaktivasi sumur-sumur yang idle, dari total 44.985 sumur yang ada di Indonesia, terdapat 16.990 sumur yang masuk pada kriteria idle well. Namun demikian, tidak semua memiliki potensi untuk direaktivikasi karena sesuatu dan lain hal, seperti tidak adanya potensi subsurface, keekonomian yang tidak terpenuhi karena high cost rectivation dan harga minyak mentah dunia pada saat itu, serta faktor HSE dan non teknikal lainnya.

Baca juga : Pemerintah Permudah Bagi Hasil Migas, Tawari Split Hingga 95%

Sementara itu strategi ketiga adalah dengan melakukan eksplorasi migas khususnya di wilayah Indonesia Timur, karena disana memiliki potensi penemuan-penemuan cadangan baru, sehingga pemerintah akan mendorong percepatan melalui skema kerja sama dan insentif yang lebih menarik.

“Fokus area kita sekarang itu adalah di daerah-daerah wilayah timur. Ini. Jadi di wilayah-wilayah timur sekarang. Nah, status area saat ini, ada beberapa blok yang potensinya bagus. Seperti di Seram, Buton, di Laut Aru-Arafura, Warim, dan Timor,” pungkasnya.

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img