InfoEkonomi.ID – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima kunjungan kehormatan Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Rakyat China, Wang Yi di Istana Kepresidenan, Kamis (8/4). Pertemuan ini menjadi panggung untuk membahas sejumlah isu krusial, dari kerja sama ekonomi hingga stabilitas global.
“Yang pertama, bapak presiden menyampaikan pentingnya kedua negara meningkatkan kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan,” katanya.
Dalam keterangan pers setelah pertemuan, Menlu RI, Retno Marsudi, membeberkan tiga pesan penting yang disampaikan Presiden Jokowi dalam pertemuan tersebut.
Pertama, Jokowi menekankan pentingnya meningkatkan kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan antara kedua negara. Ia menyoroti pertumbuhan volume dan nilai perdagangan yang terus meningkat, sambil menginginkan pembukaan akses pasar produk Indonesia ke China, termasuk penyelesaian protokol impor produk pertanian dan perikanan.
Selanjutnya, Jokowi memfokuskan perhatiannya pada pembangunan infrastruktur, terutama dalam konteks proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung dan pengembangan moda transportasi.
Dia juga mendorong adanya alih teknologi serta percepatan penyelesaian studi kelayakan untuk perpanjangan jalur kereta tersebut hingga ke Surabaya. Pemerintah Indonesia juga mengundang investasi di sektor petrokimia, khususnya di kawasan industri Kalimantan Utara.
“Hal lain masih di dalam bidang kerja sama ekonomi, bapak presiden mendorong kerja sama pembangunan di IKN termasuk untuk moda transportasi. Selain itu, bapak presiden bicara mengenai masalah Kereta Cepat Jakarta-Bandung dan mendorong adanya alih teknologi, serta perlu percepatan penyelesaian studi kelayakan untuk perpanjangan trase ke Surabaya,” ujar Jokowi.
“Bapak presiden juga mendorong implementasi proyek strategis di kawasan industri Kalimantan Utara khususnya untuk investasi di bidang petrokimia,” lanjutnya.
Retno menambahkan, hal yang kedua yang disampaikan Jokowi mengenai masalah ketahanan pangan. Menurut dia, ketahanan pangan sangat penting.
“Oleh karena itu kerja sama pertanian dua negara penting untuk ditingkatkan, termasuk atau khususnya untuk padi, hortikultura dan juga durian, dengan salah satunya adalah mempelajari modeling pertanian China,” kata Retno.
Hal terakhir yang disampaikan oleh Jokowi, menurut dia, terkait dengan situasi di Timur Tengah. Jokowi menekankan tidak ada pihak yang ingin melihat adanya eskalasi.
“Dan bapak presiden menyampaikan bahwa Indonesia terus melakukan komunikasi diplomatik dengan berbagai pihak termasuk Iran dan Amerika Serikat. Di dalam komunikasi tersebut Indonesia menekankan tiga hal. Yang pertama, pentingnya menahan diri. Yang kedua, pentingnya terjadi deeskalasi. Dan yang ketiga, meminta negara-negara untuk menggunakan pengaruhnya untuk menghindari terjadinya eskalasi,” ujar Retno.
Dia menambahkan, di dalam diskusi itu, posisi China dan Indonesia sama. Jokowi juga menyampaikan keyakinannya bahwa China juga akan menggunakan pengaruhnya agar eskalasi dapat dicegah.
“Dalam diskusi RRT tadi menekankan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina melalui two state solution sama persis dengan posisi Indonesia. Dan kedua belah pihak juga sepakat bahwa penyelesaian Palestina harus diselesaikan secara adil melalui two state solution jika kita ingin melihat stabilitas di Timur Tengah,” kata Retno.
“Tadi juga dilakukan exchanges of use mengenai dukungan mayoritas negara-negara anggota PBB untuk keanggotaan penuh Palestina di PBB. Di dalam hal ini sekali lagi, posisi Indonesia dan posisi RRT sama, bahwa kita mendukung penuh keanggotaan Palestina di PBB,” lanjutnya.

































