InfoEkonomi.ID – PT BRI Asuransi Indonesia atau BRI Insurance mendapatkan Peringkat Nasional Insurer Financial Strength (IFS) di ‘AA(idn)’ dengan outlook stabil dari Fitch Ratings Indonesia
Langkah ini menandai penilaian yang sangat positif terhadap kemampuan BRI Insurance dalam memenuhi kewajiban pemegang polisnya.
Menurut keterangan resmi yang diterbitkan pada Kamis, Fitch menyatakan bahwa peringkat ‘AA’ mencerminkan kapasitas yang sangat kuat dari BRI Insurance untuk memenuhi kewajiban pemegang polisnya, dibandingkan dengan perusahaan asuransi lainnya di Indonesia.
Perusahaan juga dinilai memiliki profil bisnis yang ‘Favourable’ dan tata kelola perusahaan yang ‘Netral’ dibandingkan dengan pesaingnya di dalam negeri.
Fitch memaparkan BRI Insurance memiliki pangsa pasar sebesar 3% berdasarkan premi bruto (GPW) di industri non-jiwa di Indonesia pada tahun 2023, dan sebagian besar menjamin bisnis asuransi properti dan kredit, yang masing-masing menyumbang 46% dan 31% dari total GPW pada tahun 2023.
Asuransi BRI mendapatkan keuntungan dari nama merek yang kuat dan dukungan distribusi dari induknya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI, BBB/AAA(idn)/Stabil), salah satu bank milik negara terbesar di Indonesia. BRI berkontribusi lebih dari 40% terhadap total GPW Asuransi BRI pada tahun 2023.
Rasio modal berbasis risiko (RBC) BRI Insurance sebesar 359% pada akhir tahun 2023 (akhir tahun 2022: 299%) jauh di atas persyaratan minimum peraturan sebesar 120%. Pertumbuhan surplus telah mendukung rasio ini dalam beberapa tahun terakhir, didukung oleh kinerja underwriting yang baik. Namun, modal absolut Asuransi BRI masih kecil jika dibandingkan dengan perusahaan asuransi besar dalam negeri.
Asuransi BRI menyerahkan sebagian preminya melalui beberapa perjanjian reasuransi proporsional dan kelebihan kerugian untuk memitigasi risiko bencana. Rasio retensi premi, atau proporsi premi tertulis bersih (NPW) terhadap GPW, adalah 48% pada tahun 2023 (2022: 51%), dan rata-rata sebesar 51% selama tahun 2021-2023.
Fitch memandang tingginya tingkat pengembalian reasuransi dengan hati-hati, mengingat lemahnya kualitas kredit beberapa perusahaan reasuransi dalam negeri yang tergabung dalam panel reasuransi BRI Insurance. Perjanjian reasuransi perusahaan dipimpin oleh perusahaan reasuransi dalam negeri. Rasio pengembalian reasuransi terhadap modal adalah 110% pada akhir tahun 2023 (2022: 96%), lebih tinggi dibandingkan perusahaan asuransi Indonesia lainnya yang diperingkat Fitch.
Kinerja keuangan perusahaan didukung oleh profitabilitas underwriting yang berkelanjutan, dengan rasio gabungan sebesar 55% pada tahun 2023 (2022: 66%). Rasio tersebut rata-rata sebesar 61% selama tahun 2021-2023, didukung oleh rasio klaim yang rendah dan komisi reasuransi yang tinggi. Pengembalian ekuitas rata-rata 26% pada periode yang sama.
GPW meningkat sebesar 27% pada tahun 2023 (2022: 31%) karena peningkatan volume bisnis asuransi kredit dari BRI. Asuransi kredit, yang menyumbang 31% dari GPW pada tahun 2023, menyelesaikan gagal bayar pinjaman yang timbul akibat menurunnya kualitas kredit peminjam. Perusahaan asuransi mempunyai kebijakan pembagian risiko untuk lini bisnis ini, dimana 30% klaim ditanggung oleh bank.
Asuransi BRI memiliki strategi investasi yang konservatif. Sekitar 90% dari aset yang diinvestasikan berada dalam bentuk tunai dan setara serta surat berharga pendapatan tetap pada akhir tahun 2023. Perusahaan mengalokasikan sebagian besar portofolio investasinya pada obligasi pemerintah, jauh di atas persyaratan peraturan sebesar 20%, sementara dana tunai dan deposito berjangka mencapai sekitar 30%. Artikel ini dilansir dari mediaasuransinews































