InfoEkonomi.ID – Perusahaan fintech peer-to-peer (P2P) lending, PT Pembiayaan Digital Indonesia (AdaKami), mengungkapkan data menarik terkait penggunaan pinjaman oleh pelanggannya.
Berdasarkan data internal perusahaan, lebih dari 40% pengguna pinjaman, mayoritas mereka menggunakan dana tersebut untuk kebutuhan produktif.
Brand Manager AdaKami, Jonathan, menyampaikan bahwa hasil ini menunjukkan adanya kecenderungan yang menarik di antara pengguna pinjaman.
“Sejauh ini, lebih dari 40% user atau borrower kami menyatakan bahwa alasan mereka mengajukan pinjaman adalah untuk memenuhi kebutuhan produktif,” kata Brand Manager AdaKami Jonathan yang dilansir dari Kontan.co.id, Jumat (19/4).
Meskipun AdaKami tidak secara langsung menargetkan pembiayaan untuk kebutuhan produktif, perusahaan tersebut secara aktif melakukan kegiatan edukasi untuk memperkenalkan konsep pinjaman yang lebih produktif kepada pengguna pinjaman multiguna atau konsumtif, terutama kepada pengguna baru.
Jonathan bilang, AdaKami juga memperkenalkan ciri pinjaman sehat, salah satunya adalah memanfaatkan pinjaman yang diterima untuk memenuhi kebutuhan produktif.
“Dengan demikian, kami berharap borrower bisa lebih bijak dalam memanfaatkan pendanaan yang diterima, baik untuk memenuhi kebutuhan konsumtif maupun produktif,” ujarnya.
Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana membuat industri fintech P2P lending menyalurkan 70% pembiayaan ke sektor produktif dan 30% ke sektor konsumtif pada 2028.

































