InfoEkonomi.ID – PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) berhasil memangkas aset berkualitas rendah (Non-Performing Loan/NPL) hampir Rp900 miliar. Dengan pencapaian angka ini, BTN tercatat telah memangkas rasio NPL pada tahun 2023 secara signifikan.
“NPL turun cukup tajam. Hitung-hitungan sementara masih di bawah 3%. Penurunan NPL yang tajam ini bikin recovery di 2023 jadi bagus banget,” ucap Direktur Utama Bank BTN Nixon LP Napitupulu saat ditemui di Kementerian BUMN, Jakarta, yang dilansir dari Investor.
Dari fee based-income yang di dalamnya meliputi pembayaran Jiwasraya, Nixon mengestimasikan, perseroan sudah mengantongi lebih dari Rp 800 miliar bahkan mungkin sudah menyentuh sebesar Rp 900 miliar,
Angka lengkapnya, perseroan akan umumkan setelah tutup buku pada 10 Januari 2024. Namun yang jelas, kata Nixon, laba BBTN sepanjang 2023 akan bertumbuh sekitar 8% sampai 10%. Performa positif ini karena penurunan NPL cukup tajam sehingga recovery perseroan menjadi signifikan.
Lebih lanjut, Nixon menuturkan, penyelesaian NPL juga tidak lepas dari sinergi antara BBTN dan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA). Sinergi ini menjadi komitmen Bank BTN untuk memperbaiki kualitas aset agar fokus menyediakan solusi kepemilikan rumah bagi masyarakat.
“Upaya perbaikan kualitas aset di Bank BTN sejalan dengan arah bisnis perseroan untuk aktif mendukung pemerintah dalam meningkatkan penyediaan hunian layak melalui layanan pembiayaan perumahan terbaik,” ujar dia.
Direktur Utama PPA Muhammad Teguh Wirahadikusumah menambahkan, PPA sebagai bagian dari Holding BUMN Danareksa berkomitmen mendukung stabilitas perbankan nasional melalui solusi penyelesaian NPL.
PPA sebagai arranger juga membantu BTN menyelesaikan NPL melalui uji tuntas yang seksama, komunikasi dengan para pemangku kepentingan terkait, dan mengedepankan manajemen risiko yang terukur.
“Penyelesaian NPL Bank BTN ini diharapkan dapat membuka peluang luas untuk bersinergi dengan industri perbankan, khususnya Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) maupun swasta, sehingga dapat memberikan nilai dan kebermanfaatan bagi industri perbankan Indonesia,” tutup Teguh.

































