InfoEkonomi.ID – Saham milik PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) terpantau melesat tajam seiring diumumkannya rencana Menteri BUMN, Erick Thohir terkait klaterisasi atau merger di sektor penerbangan untuk menekan tingginya biaya logistik di Indonesia.
Berdasarkan data RTI Business, Selasa (22/8) pukul 13.49 WIB, saham GIAA naik 7,46%atau 5 poin ke level Rp72 per saham.
Harga saham GIAA bergerak di antara Rp67 hingga Rp73 sepanjang perdagangan kemarin. Meski menghijau, harga saham GIAA telahterkoreksi 64,14% secara year-to-date (ytd).
Saat ini price to earning ratio (PER) GIAA berada di -2,87 kali dengan kapitalisasi pasar Rp6,59 triliun.
Selain itu, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) juga masih menyematkan notasi khusus terhadap perusahaan plat merah ini yakni notasi E atau saham emiten dengan ekuitas negative, notasi X yang berarti sedang dalam pemantauan khusus serta notasi B yang berarti ada permohonan pernyataan pailit, permohonan pembatalan perdamaian, atau dalam kondisi pailit.
Menyikapi kabar merger industri penerbangan plat merah antara Garuda Indonesia, Citilink dan Pelita Air, Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra seperti dikutip investor bilang bahwa inisiatif merger tersebut masih dalam tahap diskusi dan belum sampai pada kesimpulan. Sebab, semuanya sedang dianalisa dan dikaji secara matang.
Saat disinggung kemungkinan merger rampung pada tahun depan, Irfan belum bersedia memastikan. Sebagai informasi, Citilink sendiri merupakan anak usaha Garuda, sementara Pelita Air merupakan anak usaha Pertamina.
Selain itu, penggabungan ketiga maskapai pelat merah tersebut juga merespons krisis pesawat yang kini dihadapi Indonesia.
Menurut Erick, Indonesia kekurangan sekitar 200 pesawat setelah membandingkan dengan jumlah pesawat di Amerika Serikat.
Di Amerika Serikat dengan populasi 300 juta dan rata-rata GDP (pendapatan per kapita) mencapai US$ 40 ribu, mengerahkan sebanyak 7.200 pesawat untuk melayani rute domestik.
Sedangkan Indonesia dengan populasi 280 juta penduduk dan rata-rata GDP US$ 4.700 hanya mempunyai 550 pesawat.
Karena itu, Erick menyatakan, Indonesia membutuhkan tambahan sebanyak 729 pesawat dari jumlah pesawat saat ini.
“Jadi, perkara logistik kita ini belum sesuai,” ujar Erick dalam keterangannya.
Untuk mengatasi kekurangan pesawat tersebut, Erick pun membuka kemungkinan untuk melakukan merger terhadap tiga maskapai BUMN. Kementerian BUMN, lanjutnya, terus berupaya menekan biaya logistik, salah satunya melalui upaya efisiensi dengan merger perusahaan-perusahaan.
Erick mencontohkan merger yang dilakukan pada PT Pelabuhan Indonesia atau Pelindo dari sebelumnya memiliki 4 perusahaan menjadi 1.
Hal tersebut, lanjutnya, berdampak pada penurunan biaya logistik dari sebelumnya mencapai 23%, menjadi 11%.
“Kami juga upayakan Pelita Air, Citilink, dan Garuda merger untuk menekan cost,”ungkapnya.
































