InfoEkonomi.ID – PT Telkom Indonesia Tbk berhasil menuntaskan konsolidasi antara Telkomsel dan Indihome. Berkat konsolidasian tersebut Telkom diproyeksikan akan menghemat jumlah belanja modal senilai Rp300 miliar pertahun, serta akan mendapatkan tambahan EBITDA senilai Rp5 triliun efek dari sinergi tersebut.
“Berdasarkan proyeksi internal Telkom didukung dengan konsultan independen, fixed mobile convergence (FMC) diharapkan dapat menciptakan sinergi capex sekitar Rp 300 miliar per tahun. Adapun tambahan EBITDA Rp 5 triliun diprediksi terjadi pada 2027,” ujar VP Corporate Communication Telkom Andri Herawan Sasoko kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.
FMC merupakan konsep yang mengacu pada penggunaan teknologi yang sama untuk jaringan fixed, selular, maupun Internet sebagai basis layanan komunikasi masyarakat modern. Melalui FMC, seluruh modernisasi layanan telekomunikasi generasi baru akan dapat terakomodasi. Pelanggan juga secara leluasa akan menikmati layanan melalui jaringan fixed dan mobile yang terintegrasi.
Selaras dengan proyeksi internal Telkom, Analis Sucor Sekuritas Christofer Kojongian dalam risetnya menuturkan, konsolidasi lini bisnis fixed broadband dan seluler Telkom akan membuat kinerja emiten telekomunikasi pelat merah tersebut kian efisien. Sebab, capex akan berkurang dan Telkom bisa mendapatkan tambahan pemasukan, berkat menguatnya penetrasi Telkom di pasar.
Sentimen lain yang membuat kinerja kinclong, lanjut dia, adalah performa perseroan yang mencatatkan volume data pelanggan saat Lebaran. Ini diikuti lagi dengan membaiknya jumlah pelanggan dan pertumbuhan application service provider (ASP) yang diproyesikan menjadi penggerak utama kinerja Telkom tahun ini.
Di sisi lain, dalam menghadapi musim Pemilu, Christofer menyebutkan, lalu lintas data biasanya meningkat. Karena itu, dia memperkirakan, pendapatan inti Telkom tumbuh 21,6% dan 7,3% pada 2023–2024, disokong oleh pertumbuhan penggunaan data dan bisnis FMC.
“EBITDA Telkom juga diekspektasikan mengarah pada perbaikan menuju Rp 82,6-88,6 triliun dan secara konservatif margin EBITDA diharapkan tetap stabil di posisi 53,5%,” tutur dia.
Christofer pun mempertahankan rekomendasi beli saham TLKM dengan target harga Rp 5.200, berdasarkan EV/EBITDA 2023 sebesar 6,6 kali.
“Kami menjagokan Telkom karena memiliki posisi yang bagus di pasar dengan pro‑tabilitas margin tinggi dan return on equity (RoE) baik, dibandingkan pelaku industri telekomunikasi yang lain,” tukas Christofer.
Sebelumnya, Telkom mencatatkan pendapatan Rp 36,09 triliun pada kuartal I-2023, naik 2,5% dari Rp 35,2 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Adapun per tanggal 31 Maret 2023, Telkomsel (anak usaha Telkom) menilai nilai wajar investasi di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dengan menggunakan nilai pasar saham GOTO sebesar Rp 109.
Jumlah keuntungan yang belum direalisasi dari perubahan nilai wajar investasi Telkomsel pada GOTO pada tanggal 31 Maret 2023 Rp 427 miliar dan disajikan sebagai keuntungan yang belum direalisasi dari perubahan nilai wajar atas investasi dalam laporan laba rugi konsolidasian Telkom mencatatkan laba bersih Rp 6,42 triliun pada periode itu, naik 5% dari Rp 6,11 triliun pada kuartal I-2022. Laba bersih per saham mencapai Rp 64,85, lebih besar dari Rp 61,76, dilansir dari investor.id.

































