InfoEkonomi.ID – PT Hutama Karya terus gencarkan pembangunan di berbagai wilayah Indonesia. Adapun, untuk saat ini, Hutama Karya tengah menggarap proyek pembangunan bendungan Ameroro Paket II di provinsi Sulawesi Tenggara.
Digarap melalui kerja sama operasi (KSO) dengan PT Adhi Karya (Persero) Tbk, pembangunan bendungan itu saat ini sudah mencapai 70% atau lebih cepat dari target yang dicanangkan.
Sebelumnya PT Hutama Karya sudah menuntaskan beberapa proyek bendungan besar seperti Bendungan Bintang Bano (Nusa Tenggara Barat), Bendungan Bendo, Bendungan Semantok, Bendungan Gongseng (Jawa Timur) dan Bendungan Ladongi (Sulawesi Tenggara).
Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya Tjahjo Purnomo mengatakan bahwa Bendungan Ameroro merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) guna mendukung program ketahanan pangan dan ketersediaan air, dan akan menjadi bendungan kedua di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
Pembangunan bendungan dimulai sejak tahun 2020 untuk Paket I dan Paket II dikerjakan pada tahun 2021 dengan total anggaran keseluruhan sebesar Rp1,6 Triliun.
“Bendungan Ameroro nantinya akan memiliki kapasitas tampung 54,15 juta m3 dengan luas genangan 244,51 Ha yang berpotensi menambah layanan daerah irigasi seluas 3,363 Ha,” jelas Tjahjo.
Lebih lanjut Tjahjo menyampaikan bahwa Hutama Karya berkomitmen untuk menyelesaikan pembangunan Bendungan Ameroro ini dengan tepat waktu dan tepat mutu.
“Kami menargetkan Bendungan Ameroro akan rampung akhir tahun 2023. Secara keseluruhan progres sudah lebih cepat dari master schedule yang telah ditentukan. Ini menjadi prestasi tersendiri bagi HK,” ujar Tjahjo.
Pembangunan Bendungan Ameroro ini diharapkan dapat meningkatkan volume tampungan air sehingga suplai air irigasi ke lahan pertanian dapat terus terjaga, tersedianya air baku, tersedianya energi listrik sebesar 1.365 KWH, mereduksi banjir, dan tentunya bisa menjadi salah satu objek pariwisata bagi masyarakat sekitar.
Dalam pembangunan proyek ini, Hutama Karya melakukan pekerjaan persiapan, pekerjaan jalan akses dan jembatan, pekerjaan hydro mekanikal dan elektrikal, pekerjaan bangunan fasilitas dan penyelenggaraan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) dengan mengusung konsep green constructions. Adapun saat ini sudah tahap penyelesaian pekerjaan main dam, spillway, bangunan fasilitas, landscape serta clearing area genangan.
“Bendungan ini mendukung konsep green constructions, dalam pengerjaannya. Hutama Karya berinovasi dengan menggunakan metode hydroseeding yang mencampur bibit tanaman kacang-kacangan dengan pupuk, bahan perekat dan pupuk kompos di campur di dalam mesin agitator agar bisa digunakan pada permukaan tebing. Hal ini dapat mengurangi penggunaan semen pada proteksi konvensional dan membuat tampilan tebing tampak lebih hijau serta menjaga kelestarian lingkungan,” tutup Tjahjo Purnomo.

































