Peternakan bukan hanya tentang memelihara dan menjual ternak. Jika dikelola secara terpadu, hasil sampingnya pun dapat menjadi sumber pendapatan baru. Inilah yang dikembangkan Kelompok Wargi Saluyu di Desa Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat. Selain beternak domba dan sapi, kelompok ini mengolah kotoran ternak menjadi pupuk organik bernilai ekonomi. Melalui keterpaduan peternakan dan pertanian, mereka membangun usaha produktif yang tidak hanya menghidupi anggota kelompok, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.
Kisah Wargi Saluyu bermula pada 2020, ketika pandemi Covid-19 membuat banyak warga kehilangan pekerjaan. Melihat kondisi tersebut, Jajang Rohendi tergerak mengajak masyarakat di lingkungannya untuk membangun usaha bersama. Potensi peternakan domba yang telah berkembang di Desa Pasirlangu menjadi modal awal untuk memulai langkah tersebut.
“Awalnya, saya melihat banyak anak muda dan warga yang belum memiliki pekerjaan. Kebetulan, di lingkungan kami sudah banyak yang beternak domba. Kemudian kami bermusyawarah untuk membentuk kelompok agar bisa belajar bersama dan mengembangkan usaha peternakan,” ujar Jajang Rohendi, Ketua Kelompok Wargi Saluyu, saat ditemui di kandang miliknya, Kamis (29/10/2026).
Bagi Jajang, membentuk kelompok bukan sekadar menyatukan para peternak, melainkan membangun kekuatan bersama agar usaha dapat berkembang. Melalui wadah tersebut, anggota bisa saling bertukar pengalaman, memperluas komunikasi, dan memperoleh akses terhadap berbagai dukungan yang dibutuhkan dalam menjalankan usaha.
Kini, Wargi Saluyu memiliki 20 anggota yang bergerak di bidang peternakan, pertanian, dan pengolahan limbah ternak. Di sektor peternakan, kelompok ini mengelola sekitar 150 ekor domba dan 10 ekor sapi. Sementara di sektor pertanian, para anggota membudidayakan berbagai komoditas, seperti paprika, seledri, kol, brokoli, tomat, dan selada.
Beragam kegiatan tersebut menjadi modal bagi kelompok untuk mengoptimalkan potensi sumber daya lokal. Peternakan domba menjadi salah satu usaha utama karena relatif praktis dikembangkan. Sementara itu, kegiatan pertanian membuka peluang saling mendukung, baik dalam pemenuhan kebutuhan pakan ternak maupun pemanfaatan pupuk organik.
Dalam menjalankan usaha peternakan, anggota kelompok memperhatikan berbagai aspek pemeliharaan, mulai dari ketersediaan pakan, kesehatan ternak, hingga kebersihan kandang. Untuk memenuhi kebutuhan hijauan, mereka menanam rumput odot, disertai pemberian konsentrat dan bahan pakan tambahan sesuai kebutuhan ternak.
Pemeliharaan kesehatan ternak juga dilakukan melalui komunikasi dengan petugas penyuluh dan dinas yang menangani bidang peternakan. Dengan koordinasi tersebut, anggota kelompok dapat memperoleh pendampingan dan memastikan ternak mendapatkan penanganan ketika mengalami gangguan kesehatan.
Meski terus berkembang, perjalanan usaha Wargi Saluyu tidak lepas dari tantangan. Musim kemarau, misalnya, kerap menyulitkan peternak dalam memenuhi kebutuhan pakan karena rumput mulai mengering dan bahan pakan tambahan lebih sulit diperoleh. Kondisi ini menuntut mereka untuk lebih cermat mengatur ketersediaan pakan agar pemeliharaan ternak tetap berjalan.
“Kalau musim kemarau, tantangan terbesar kami adalah pakan. Rumput mulai kering dan bahan pakan tambahan juga lebih sulit didapatkan. Karena itu, ketersediaan pakan menjadi hal yang harus benar-benar diperhatikan dalam pemeliharaan domba,” kata Jajang.
Di tengah tantangan tersebut, Wargi Saluyu berupaya memaksimalkan potensi yang dimiliki. Salah satunya dengan mengolah kotoran ternak menjadi pupuk organik. Bagi kelompok ini, kotoran domba bukan sekadar limbah yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang dapat diolah kembali menjadi produk bermanfaat dan menghasilkan pendapatan.
Dari kegiatan tersebut, kelompok mampu memproduksi sekitar 140 kilogram pupuk organik setiap hari atau setara empat karung. Pupuk dijual dengan harga Rp30.000 per karung dan dipasarkan kepada masyarakat sekitar yang sebagian besar berprofesi sebagai petani. Hasil penjualannya turut membantu memenuhi kebutuhan operasional peternakan, termasuk pembelian konsentrat dan bahan pakan tambahan.
“Selain menjual hasil peternakan domba, kami mengolah kotorannya menjadi pupuk organik. Pupuk ini dipasarkan di sekitar lingkungan kami karena banyak masyarakat yang bekerja sebagai petani,” ujar Jajang.
Pengolahan limbah tersebut menciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara peternakan dan pertanian. Petani memperoleh pupuk organik untuk membantu menyuburkan tanaman, sementara peternak dapat memanfaatkan hasil samping pertanian yang sesuai sebagai sumber pakan. Dengan pola ini, sumber daya lokal dimanfaatkan secara lebih optimal dan menghasilkan nilai tambah bagi kedua sektor.
Namun, bagi Jajang, keberhasilan Wargi Saluyu tidak semata-mata diukur dari jumlah ternak atau produksi pupuk. Kekompakan, kepercayaan, dan keterbukaan antaranggota justru menjadi fondasi penting agar kelompok dapat bertahan dan terus berkembang. Terlebih, kerja sama dengan berbagai pihak membutuhkan komunikasi serta pengelolaan kelompok yang baik.
“Yang paling utama adalah saling percaya, jujur, transparan, dan menjaga komunikasi. Kalau ada bantuan atau dukungan dari pihak lain, semuanya harus terbuka. Dengan begitu, anggota bisa terus bekerja sama dan kelompok dapat berkembang,” tuturnya.
Pengalaman Jajang menekuni peternakan sejak awal 2000-an juga memberinya keyakinan bahwa sektor ini dapat menjadi sumber penghidupan keluarga. Dari usaha tersebut, ia merasakan manfaat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, termasuk membiayai pendidikan anak. Pengalaman itulah yang mendorongnya mengajak generasi muda agar tidak ragu menekuni dunia peternakan dan terus meningkatkan pengetahuan serta keterampilan.
“Jangan gengsi dan jangan malu untuk menjadi peternak. Saya sendiri merasakan bahwa peternakan bisa membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga dan menyekolahkan anak. Sekarang peluang pemasaran juga semakin luas. Yang penting, kita mau menekuni, belajar, dan terus mengembangkan usaha,” ujar Jajang.
Ke depan, Jajang berharap Wargi Saluyu dapat terus berkembang, baik dari sisi populasi ternak, kapasitas kandang, maupun usaha pertanian dan pengolahan limbah. Ia juga ingin peternakan domba semakin maju dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat di Kecamatan Cisarua dan Kabupaten Bandung Barat.
Perjalanan Wargi Saluyu memperlihatkan bahwa kemandirian ekonomi dapat tumbuh dari kepedulian dan kemauan untuk bergerak bersama. Berawal dari upaya membantu warga yang kehilangan pekerjaan, kelompok ini perlahan membangun usaha dengan memanfaatkan potensi lokal. Dari kandang ternak hingga lahan pertanian, mereka membuktikan bahwa peternakan bukan hanya tentang menghasilkan produk, tetapi juga menciptakan nilai tambah, membuka peluang usaha, dan membangun kesejahteraan bersama.
Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News
































