Peringati Hari Pangan Sedunia 2026, Bapanas Gelar GPM Nasional di 514 Kabupaten/Kota

Peringatan Hari Pangan Sedunia tahun 2026 dilaksanakan Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Perum Bulog, ID FOOD, pemerintah daerah, dan kalangan swasta dengan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) Nasional. Aksi serentak GPM Nasional ini ditujukan agar masyarakat dapat mengakses pangan dengan harga lebih terjangkau, sehingga tingkat konsumsi mampu terjaga semakin baik dan kelaparan berhasil terentaskan.

Mengenai perkembangan penurunan kelaparan, Food and Agriculture Organization (FAO) melaporkan dalam The State of Food Security and Nutrition in the World 2026, prevalensi kelaparan untuk populasi di Indonesia telah menurun dari 18,4 persen yang merupakan rerata selama tahun 2004-2006 menjadi 6,3 persen pada rerata selama tahun 2023-2025.

Dalam regional Asia Tenggara, Indonesia ditempatkan menjadi negara dengan penurunan prevalensi kelaparan terbesar ketiga dengan deviasi mencapai 12,1 persen. Sementara Myanmar berada di urutan pertama dengan deviasi 20,2 persen dari 24,8 persen pada 2004-2006 menjadi 4,6 persen pada 2023-2025. Urutan kedua ada Filipina dengan deviasi 13,9 persen dari 17,3 persen ke 3,4 persen.

Melalui GPM, pemerintah mengupayakan akses masyarakat berpenghasilan rendah terhadap pangan dengan harga lebih terjangkau dapat semakin meningkat. Pemerataan GPM digenjot pemerintah secara kolaboratif agar sasarannya dapat merambah ke seluruh kabupaten/kota.

Sampai minggu ketiga Oktober, Bapanas mencatatkan pelaksanaan GPM telah mencapai 11.349 kali di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota. Realisasi GPM tahun 2026 ini terbukti semakin meluas karena pada pelaksanaan GPM selama tahun 2025 menyasar 385 kabupaten/kota saja.

“Fokus pemerintah sesuai perintah Bapak Presiden Prabowo adalah stabilisasi harga pangan pokok. Kami di Bapanas bersama-sama terus melakukan intervensi agar masyarakat terbantu. Stok pangan kita banyak, insya Allah aman,” ucap Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dikutip di Jakarta pada Kamis (22/10/2026).

Sementara, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Muhammad Saleh Mustafa menuturkan GPM hari ini dilaksanakan dalam rangka Hari Pangan Sedunia. Pemerintah akan terus mengoptimalkan agar dampak positif dapat dirasakan masyarakat.

“Kita hari ini melaksanakan Gerakan Pangan Murah dalam rangka hari pangan sedunia. Kegiatan ini sudah berlangsung (sejak lama), cuma hari ini kita optimalkan dan kita berharap ini bisa terus kita tingkatkan,” ujar Wamen Saleh saat visitasi ke Kantor Kelurahan Bukit Duri, Jakarta (22/10/2026).

Sebagai informasi, dalam peringatan Hari Pangan Sedunia 2026 ini, FAO mengingatkan upaya mengakhiri kelaparan harus terus dilakukan. Ini karena produksi pangan secara global mencukupi. Akan tetapi masih ada 645 juta orang di seluruh dunia menghadapi kelaparan dan 2,69 miliar orang tidak mampu membeli makanan sehat dan bergizi.

Ini diakibatkan terjadinya konflik, ketidakstabilan ekonomi, dan faktor perubahan iklim yang memberikan tekanan pada sistem pertanian dan pangan. Saat ini tantangannya adalah bagaimana memastikan akses terhadap makanan yang reliabel, terjangkau, dan juga bergizi bagi setiap orang di seluruh belahan dunia.

Oleh karena itu, FAO mengajak secara bersama-sama dalam bagaimana mendorong inovasi dalam membangun sistem pertanian dan pangan yang lebih stabil, lebih inklusif, dan lebih tangguh, sehingga mampu memberi pasokan sekaligus melindungi sumber daya yang dibutuhkan bagi generasi mendatang.

“Kita akan evaluasi tentang bagaimana dampak dari Gerakan Pangan Murah ini terhadap daya beli masyarakat sebagai konsumen. Kemudian juga hari ini kita ada penyerahan satu kendaraan mobil laboratorium dan mobil SPHP. Jadi tujuannya kita agar titik-titik yang terjadi inflasi atau harga pangan yang tidak stabil, bisa dilakukan intervensi secara cepat,” tambah dia.

Adanya perluasan akses penyediaan pasar murah bagi masyarakat seperti ini diyakini turut andil dalam pengendalian inflasi komponen harga bergejolak (volatile food) atau inflasi pangan. Perkembangan tingkat inflasi pangan menjelang akhir tahun memang kerap memunculkan fluktuasi.

Dalam 2 tahun terakhir, tren tersebut sebenarnya lazim terjadi. Namun selepas pergantian tahun, pemerintah meyakini inflasi pangan dapat kembali melandai.

Adapun pada September 2026, tingkat inflasi pangan secara tahunan berada di 5,03 persen. Namun jika dibandingkan terhadap tahun 2025 justru masih lebih stabil, karena inflasi pangan pada September 2025 mencatatkan hingga 6,44 persen. Akan tetapi inflasi pangan tersebut berhasil ditekan karena pada Januari 2026 melandai di 1,14 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi pangan secara tahunan pada September 2026 berasal dari pergerakan harga daging ayam ras, cabai rawit, dan beras. Terhadap gejolak komoditas pangan yang sering berfluktuasi tersebut, pemerintah menggunakan instrumen Proyeksi Neraca Pangan guna melihat kesiapan stok produksi dalam negeri.

Untuk 3 komoditas yang berfluktuasi di September sebagaimana laporan BPS, sesuai hasil Proyeksi Neraca Pangan pemerintah meyakini produksi dalam negeri masih memadai. Langkah selanjutnya adalah perlunya mengguyur ke daerah-daerah yang sedang berfluktuasi agar dapat menyentuh langsung ke masyarakat sebagai konsumen. Berbagai program stabilisasi telah disiapkan mulai hulu sampai hilir.

Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img