Komitmen pemerintah dalam melindungi keberlangsungan usaha produksi peternak unggas dalam negeri diperkuat dengan memastikan penyerapan melalui program pemerintah. Setelah berkomitmen penuh dengan peternak petelur ayam ras, pemerintah turut pula mendukung peternak ayam pedaging hidup atau ayam broiler.
Sejauh ini, pergerakan harga telur ayam ras di tingkat peternak secara nasional dalam 3 hari terakhir tampak mulai meningkat. Dalam pantauan Badan Pangan Nasional (Bapanas) mendapati rerata harga telur ayam sejak 9 Juni sampai 11 Juni bergerak positif 0,025 persen dari Rp 24.075 per kilogram (kg) ke Rp 24.081 per kg. Kendati begitu, kondisi harga ayam broiler di tingkat peternak terus menjadi perhatian pemerintah.
“Kita sudah sepakati agar MBG (Makan Bergizi Gratis) konsumsi ayam dan telur ditingkatkan dalam 1 minggu. Bila perlu, itu bisa 3 atau 5 kali per minggu. Kami sudah bicara langsung ke Ibu Kepala BGN (Badan Gizi Nasional) dan beliau langsung menindaklanjuti,” ujar Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian di Jakarta dikutip Jumat (12/6/2026).
“Kami ucapkan terima kasih kepada Ibu Kepala BGN yang responnya sangat cepat. Sekali lagi, kami apresiasi dan berterima kasih, sehingga harga mulai merangkak naik. (Kondisinya) ini suplainya (sedang) naik dan ada jeda sedikit libur sekolah,” ungkap Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman.
Untuk itu, pemerintah melalui Kementerian Pertanian dan Bapanas mendukung penuh kesepakatan bersama yang baru saja ditetapkan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR Indonesia). Dalam rapat koordinasi yang dihelat di Semarang, Jawa Tengah (9/6/2026) diputuskan komitmen yang harus ditaati seluruh anggota PINSAR Indonesia.
Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas Maino Dwi Hartono mengatakan komitmen untuk implementasi harga ayam broiler atau live bird diharapkan dapat mengerek mendekati ke Harga Acuan Pembelian (HAP) ayam broiler tingkat peternak. Mitra MBG pun juga perlu mendukung penyerapan yang langsung dari peternak.
“Sesuai arahan Bapak Kepala Bapanas, komitmen bersama ini sebagai upaya bersama untuk mewajarkan harga peternak ayam kita secara bertahap. Pemerintah akan mengawal komitmen PINSAR Indonesia. Kondisi ini memang kita lihat ada over supply tapi semoga harga pembelian peternak bisa membaik mendekati HAP,” terang Direktur Maino.
Adapun dalam komitmen bersama PINSAR Indonesia ditetapkan kesepakatan agar harga pembelian live bird mulai 10 Juni diterapkan pada harga Rp 15.500 per kg berat hidup di Jawa Tengah (Jateng) dan Rp 16.000 per kg berat hidup di Jawa Barat (Jabar) dan Jawa Timur (Jatim). Kemudian pada 12 Juni mulai naik menjadi Rp 17.000 per kg berat hidup untuk Jateng dan Rp 17.500 per kg berat hidup di Jabar dan Jatim.
Targetnya pada 15 Juni mendatang diharapkan harga live bird dapat mencapai Rp 19.500 per kg berat hidup untuk seluruh wilayah Jawa. Seluruh peserta sepakat bahwa keberhasilan pemulihan harga live bird hanya dapat dicapai melalui kekompakan, disiplin, dan komitmen seluruh pelaku usaha perunggasan.
PINSAR Indonesia turut pula menegaskan pentingnya optimalisasi Program MBG sebagai instrumen strategis dalam menyerap produksi ayam dan telur peternak rakyat secara langsung. Oleh karena itu, pemerintah siap mengawal realisasi penyerapan dalam pelaksanaan program MBG.
“Dari BGN diharapkan ada kebijakan mungkin 3 hari seminggu dengan harga beli yang baik. Kami dari Bapanas intinya kepada BGN meminta dukungannya agar menyerap daging dan telur ayam hasil kerja keras peternak lokal kita. Tentu pemerintah akan terus upayakan,” kata Direktur Bapanas Maino.
BGN Jawa Tengah sendiri telah menyampaikan akan mengutamakan menu dengan bahan baku daging ayam dan telur ayam ras. Keterhubungan ini justru membantu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan membeli langsung dari produsen pangan yang terdekat.
Akan tetapi, tantangannya ada pada jeda masa libur panjang sekolah yang akan dimulai pada minggu terakhir Juni ini sampai pertengahan Juli mendatang. Di periode tersebut penurunan penyerapan hasil peternak oleh SPPG MBG dapat terjadi.
Untuk itu, salah satu solusi yang akan diterapkan Bapanas adalah menggencarkan mobilisasi stok berlebih ke daerah yang masih mengalami fluktuasi harga. Program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) dapat digerakkan oleh Bapanas bersama pemerintah daerah.
Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News































