Upaya menyiapkan generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan produktif tidak bisa ditunda. Di tengah bonus demografi yang sedang dinikmati Indonesia, pemenuhan gizi masyarakat menjadi salah satu fondasi utama untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Pesan tersebut mengemuka dalam peringatan Hari Susu Nusantara (HSN) 2026 bertema “Dengan Susu: Generasi Kuat, Indonesia Hebat” yang digelar di Plaza Sudirman, Jakarta, Minggu (14/6/2026). Kegiatan yang diinisiasi Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan) bersama Kementerian Pertanian (Kementan) ini menjadi momentum untuk mendorong budaya minum susu sekaligus memperkuat sektor persusuan nasional dari hulu hingga hilir.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa penguatan gizi masyarakat harus menjadi gerakan bersama seluruh pemangku kepentingan.
“Pesan Presiden sangat jelas, yaitu mengedepankan ketahanan pangan sebagai fondasi pembangunan bangsa. Karena itu, penguatan sektor persusuan harus menjadi gerakan bersama. Sekitar 70 persen penduduk Indonesia saat ini berada pada usia produktif. Kita tidak boleh menunda, tetapi harus mulai memikirkan pemenuhan gizi dan perkembangan generasi penerus sejak hari ini agar terbentuk sumber daya manusia yang unggul di masa depan,” ungkap Hanif.
Menurut Hanif, susu merupakan bagian penting dari pola makan bergizi seimbang yang dapat melengkapi kebutuhan nutrisi masyarakat.
“Susu melengkapi kebutuhan gizi yang telah kita peroleh dari berbagai sumber pangan lainnya. Kami berharap semangat Hari Susu Nusantara dapat direplikasi di berbagai daerah sehingga budaya minum susu semakin tumbuh di tengah masyarakat,” imbuhnya.
Sejalan dengan upaya peningkatan konsumsi susu, pemerintah juga terus memperkuat kapasitas produksi susu dalam negeri. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, mengatakan produksi susu segar nasional saat ini baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan nasional, sementara sekitar 80 persen lainnya masih dipenuhi melalui impor setara susu bubuk. Menurutnya, kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk memperkuat industri persusuan nasional
“Kementerian Pertanian bersama kementerian dan lembaga terkait menjalankan tiga strategi utama yang menjadi fondasi percepatan produksi susu nasional. Strategi pertama adalah meningkatkan produksi dan produktivitas susu segar nasional melalui perbaikan genetik, penguatan kesehatan hewan, serta perbaikan nutrisi dan manajemen pakan,” kata Agung.
Ia menjelaskan bahwa perbaikan genetik dilakukan melalui program inseminasi buatan dan transfer embrio untuk menghasilkan sapi perah yang lebih adaptif terhadap iklim tropis dan memiliki produktivitas susu yang lebih tinggi. Di saat yang sama, pengendalian penyakit dan peningkatan kualitas pakan terus diperkuat untuk menjaga produktivitas ternak’.
Selanjutnya, strategi kedua adalah memperkuat regulasi sebagai fondasi percepatan pengembangan industri susu nasional. Menurut Agung, regulasi tersebut akan menjadi payung kebijakan yang mempercepat pengembangan sektor persusuan dari hulu hingga hilir serta menjadi dasar penyempurnaan peta jalan pengembangan persusuan nasional.
Sementara strategi ketiga adalah memperkuat hilirisasi dan memperluas pasar susu dalam negeri agar peningkatan produksi dapat terserap secara berkelanjutan.
“Saat ini kita memiliki captive market yang sangat besar melalui Program Makan Bergizi Gratis. Di daerah yang memiliki produksi susu, menu MBG wajib memasukkan susu. Ini menjadi peluang besar untuk mendorong pertumbuhan industri persusuan nasional sekaligus meningkatkan konsumsi susu masyarakat,” ujar Agung.
Kabar positif juga datang dari subsektor peternakan rakyat. Ketua Umum Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI), Dedi Setiadi, menyampaikan bahwa penyerapan susu segar peternak oleh industri pengolahan susu saat ini semakin baik.
“Kami bersyukur dapat menjadi bagian dari Hari Susu Nusantara, karena pemerintah, koperasi, peternak, dan industri pengolahan susu dapat bersinergi dengan baik. Saat ini seluruh industri pengolahan susu sudah menerima produksi susu peternak hingga 100 persen. Kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh industri yang terus berkomunikasi dan bekerja sama dengan kami untuk menjaga penyerapan susu peternak,” ucap Dedi.
Ia menambahkan bahwa GKSI yang menaungi sekitar 57 ribu peternak sapi perah terus mendorong peningkatan produksi dan kualitas susu nasional melalui pengembangan pembibitan sapi perah dan penguatan ketersediaan pakan.
Dukungan terhadap peternak juga terus diperkuat oleh sektor industri. Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan Pintaria, mengatakan kemitraan antara industri dan peternak menjadi fondasi penting dalam pengembangan sektor persusuan nasional.
Saat ini ekosistem industri telah didukung oleh 96 tempat pengumpulan susu yang melibatkan sekitar 12 ribu peternak.
“Kami mendukung penuh peternak Indonesia melalui pola kemitraan yang saling menguatkan. Semakin meningkat produksi susu yang dihasilkan peternak, semakin besar pula upaya yang kami lakukan agar hasil produksi tersebut dapat terserap oleh industri pengolahan susu nasional sehingga memberikan manfaat bagi seluruh mata rantai usaha,” tutur Merrijantij.
Menutup rangkaian peringatan Hari Susu Nusantara, Agung mengajak masyarakat menjadikan minum susu sebagai bagian dari gaya hidup sehat keluarga Indonesia.
“Melalui Hari Susu Nusantara ini kita bersama-sama mempromosikan bahwa minum susu itu penting bagi kesehatan anak-anak kita. Dengan susu, generasi kuat, Indonesia hebat menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi pemerintah, koperasi, peternak, industri, dan masyarakat, Hari Susu Nusantara 2026 tidak hanya menjadi ajang peringatan tahunan, tetapi juga momentum memperkuat budaya konsumsi susu sekaligus memperkokoh fondasi subsektor persusuan nasional.
Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News































