Pemerintah Tak Tinggal Diam Atasi Fluktuasi Bahan Baku Plastik, Harga Pangan Terus Dijaga

Adanya fluktuasi ketersediaan bahan baku plastik mulai membawa pengaruh ke dalam negeri. Fenomena ini terus dipantau pemerintah secara serius. Ini karena salah satunya dapat berimbas terhadap harga pangan pokok strategis secara nasional.

Sampai minggu ketiga April, Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengidentifikasi penyebab terjadinya kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) di berbagai daerah. Pada komoditas gula yang membutuhkan kemasan berbahan baku plastik, BPS melaporkan memperlihatkan IPH yang mulai menanjak.

- Advertisement -

“Gula pasir, kemarin itu (minggu kedua April) 153 kabupaten kota (kenaikan IPH), sekarang (minggu ketiga April) menjadi 171 kabupaten kota,” urai Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin (20/4).

“Terkait dengan gula pasir tersebut, kami mengidentifikasikan salah satu pendorongnya ini dari kenaikan harga plastik, karena plastik digunakan sebagai packaging atau kemasan di gula pasir,” tambah Deputi BPS Ateng.

- Advertisement -

Terkait kenaikan IPH gula konsumsi sampai minggu ketiga April tersebut, dalam analisis Badan Pangan Nasional (Bapanas), dari 171 daerah yang mengalami kenaikan IPH, masih terdapat 36 daerah yang memang naik IPH tapi tidak melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP).

Dengan begitu, jumlah daerah dengan kenaikan IPH yang melebihi HAP gula berada di 135 kabupaten/kota dari total 349 daerah yang dipantau BPS. Bisa dikatakan hanya 38,7 persen saja daerah yang mengalami fluktuasi harga gula sampai minggu ketiga April.

Ditemui di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa memastikan langkah pemerintah telah dijalankan guna mengatasi bahan baku plastik. Pencarian sumber pasokan bahan baku plastik diharapkan segera menemui titik terang.

“Sekali lagi, pemerintah tidak diam, tidak menunggu, tapi sedang mencari upaya-upaya tersebut. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, relatif problem kekurangan pasokan bahan baku plastik ini bisa diselesaikan dengan baik. Kita percayakan dulu kepada teman-teman di Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian juga,” kata Ketut.

- Advertisement -

Tak hanya pemerintah, para pelaku usaha yang bergerak sebagai produsen plastik juga bergerak beriringan untuk memastikan ketersediaan bahan baku plastik. Kemungkinannya memang menyasar peluang ke negara produsen minyak bumi.

“Semua bergerak langkah, pelaku usaha kan tidak diam, dia akan mencari dan sudah akan berusaha mencari peluang-peluang tadi. Apakah dari Rusia atau negara lain selain Timur Tengah. Produsen-produsen minyak itu, itulah penghasil sumber-sumber pasokan plastik sebenarnya,” ungkap Ketut.

Ditanya mengenai implikasi terhadap harga pangan, Deputi Ketut menjelaskan memang ada dampak tersebut ke biaya yang harus dikeluarkan pelaku usaha pangan, terutama gula dan beras. Pihaknya telah mengkalkulasi posibilitas penyesuaian harga pangan apabila harga plastik semakin bergejolak.

“Terkait plastik, tentu kami sudah beberapa kali rapat dengan stakeholder, termasuk pelaku beras, gula, dan beberapa pelaku pangan kemasan, memang agak berpengaruh tatkala ada goncangan geopolitik di Timur Tengah,” ujar Ketut.

“Memang kita sudah menghitung secara kasar. Di beras itu hampir sekitar Rp 300 per kilogram dampaknya. Tapi di gula relatif lebih sedikit, sekitar Rp 100 sampai Rp 150. Itu pun masih kasar, belum kami hitung detail. Mungkin bisa lebih rendah dari itu,” ungkap Deputi Bapanas I Gusti Ketut Astawa.

Dalam pantauan Bapanas, perubahan harga gula konsumsi secara nasional dalam sebulan terakhir, baik wilayah selain Indonesia Timur maupun Indonesia Timur, memang terdapat penyesuaian harga. Akan tetapi masih wajar karena berkisar di 1,94 persen saja.

Rerata harga gula konsumsi secara nasional dalam sebulan terakhir tercatat dari Rp 18.412 per kilogram (kg) bergerak ke Rp 18.770 per kg pada 20 April. Kendati begitu, proyeksi produksi gula kristal putih dalam negeri April ke Mei akan mulai meningkat. Dari sekitar 58,3 ribu ton akan meningkat menjadi 276,4 ribu ton, sehingga akan mampu meredam harga.

Sementara rerata harga beras medium dalam sebulan terakhir berfluktuasi hanya di 0,29 persen dan beras premium di 0,37 persen saja. Rerata harga beras medium secara nasional sebulan lalu berada di Rp 13.378 per kg menjadi Rp 13.417 per kg per 20 April. Untuk beras premium, dari Rp 15.640 per kg ke Rp 15.698 per kg.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img