Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan dukungan penuh terhadap keberlangsungan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui penguatan ketersediaan pangan nasional, efisiensi rantai pasok, serta pengawasan keamanan bahan baku pangan di seluruh Indonesia.
Sekretaris Utama Bapanas, Sarwo Edhy menyampaikan pemerintah telah menyiapkan kebutuhan bahan pangan strategis untuk menopang pelaksanaan MBG, mulai dari beras, jagung, telur ayam ras, daging ayam ras, cabai, bawang merah, hingga gula konsumsi.
“Alhamdulillah berdasarkan neraca pangan yang kami himpun berdasarkan data dari BPS kemudian data dari Kementerian Pertanian, data dari lembaga-lembaga terkait termasuk Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional untuk 8 bahan pokok penting semuanya dalam keadaan surplus,” ujar Sarwo Edhy dalam Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) National Summit 2026 di Jakarta, Sabtu (25/4).
“Contoh misalnya cadangan beras di Bulog itu saat ini sudah mencapai 5,01 juta ton dan ini mungkin pertama kali dalam sejarah. Biasanya setiap tahun maksimum 2 juta ton, saat ini kita mempunyai cadangan beras 5,01 juta ton,” sambungnya.
Dalam mendukung kelancaran distribusi, Bapanas mendorong pemangkasan rantai pasok dari produsen langsung ke mitra pengelola dan dapur SPPG, salah satu alternatifnya melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Pemerintah juga memfasilitasi distribusi pangan antardaerah untuk menekan disparitas harga serta memperkuat akses pasokan di wilayah yang membutuhkan.
“Jadi Badan Pangan punya kegiatan namanya memfasilitasi distribusi pangan (FDP), artinya kalau misalnya ada pangan yang mahal di suatu daerah, maka kami bisa memfasilitasi ongkos distribusinya dari petani langsung ke kooperasi atau ke mitra dari APPMBGI untuk disampaikan pada SPPG. Jadi harganya flat di tingkat petani di seluruh Indonesia, dan ini sudah kami lakukan di beberapa kabupaten kota yang memang ada kesenjangan dari sisi harga,” terang Sarwo.
Selain menjaga ketersediaan dan kelancaran distribusi, Bapanas turut memperkuat dukungan operasional MBG melalui pendampingan teknis kepada pengelola dapur serta peningkatan standar keamanan pangan di lapangan.
Lalu, di sisi keamanan pangan, Bapanas menyiapkan laboratorium bergerak untuk melakukan pemeriksaan bahan baku ke dapur-dapur MBG. Langkah ini dilakukan agar kualitas bahan pangan tetap terjaga dan potensi gangguan keamanan pangan dapat ditekan.
“Badan Pangan juga mendukung dalam operasional MBG yaitu melakukan bimbingan kepada Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia atau SPPI kaitan dengan teknis pelaksanaan di masing-masing dapur. Kemudian kami juga melakukan edukasi kepada para SPPG untuk melakukan pengawasan keamanan pangan segar jadi di Badan Pangan Nasional itu ada mobil laboratorium yang siap berkeliling ke setiap dapur untuk mengecek apakah bahan baku itu sehat atau tidak sehingga potensi untuk keracunan itu dapat diminimalkan,” ungkap Sarwo.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappisus), Aris Marsudiyanto menegaskan keberhasilan Program MBG membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, terutama para pengelola dapur dan pelaku usaha yang terlibat langsung dalam penyediaan makanan bergizi bagi masyarakat.
“Mohon yang ada di sini sampaikan ke seluruh teman-temannya ya para pengusaha SPPG yang sekarang ini ada 22.000-an ya untuk sama-sama kita mempunyai tanggung jawab memperbaiki bangsa ini dengan sebaik-baiknya,” kata Aris.
Aris menambahkan pengawasan dan evaluasi terus dilakukan agar kualitas layanan dapur MBG tetap terjaga serta setiap penyelenggara menjalankan standar yang telah ditetapkan pemerintah.
“Sampai detik ini saya koordinasi terus dengan BGN sudah 1.700 sekian SPPG yang di-suspend diberhentikan sementara evaluasi. Mereka harus perbaiki berikan proposal untuk perbaikan,” imbuhnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kualitas air sebagai bagian dari keamanan pangan karena sangat menentukan mutu makanan yang disajikan kepada para penerima manfaat.
“Saya juga komunikasi terus dengan BGN kualitas air ini sangat penting ya. Makanannya baik tapi kalau airnya buruk ya ini akan menimbulkan keracunan. Nah air tidak semata-mata dari bakteri tapi dikasih ada unsur-unsur kimia lain unsur-unsur logam lain,” terang Aris.
Sementara itu, Ketua Umum APPMBGI, Abdul Rivai Ras menyatakan pihaknya siap membantu pemerintah memperkuat operasional dapur MBG di lapangan, mulai dari pembinaan pengelola, perbaikan standar kerja dapur, hingga memastikan pasokan bahan pangan tetap tersedia.
“Memberikan edukasi, lalu kemudian bisa menjadi zero incident, tidak ada lagi yang keracunan. Karena itu, asosiasi ini juga berperan mengawal bagaimana menjamin higienitas, menjamin persoalan sanitasi dan seterusnya terkait dengan gizi pangan. Dan tidak berhenti di situ, kami bagaimana kemudian memberikan dukungan bagaimana rantai pasok bisa terpenuhi,” pungkasnya.
Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

































